Media Pendidikan – 06 Mei 2026 | Jakarta, 5 Mei 2026 – Dokter Spesialis Jantung Bobby Arfhan Anwar menyoroti tiga konsekuensi paling berbahaya yang dihadapi perempuan perokok. Dalam sebuah wawancara dengan FAJAR.CO.ID, ia menjelaskan mengapa kebiasaan merokok dapat mengancam kesehatan wanita secara signifikan, mulai dari peningkatan risiko kanker payudara, percepatan penuaan kulit, hingga gangguan kardiovaskular.
1. Risiko Kanker Payudara Meningkat
2. Penuaan Dini pada Kulit
Merokok juga berperan dalam mempercepat proses penuaan kulit. Nikotin menyempitkan pembuluh darah, mengurangi aliran oksigen dan nutrisi ke kulit. Akibatnya, elastisitas kulit berkurang, muncul kerutan lebih awal, serta warna kulit menjadi kusam. Bobby menyebutkan, “Perokok perempuan sering kali tampak lebih tua daripada usianya karena kerusakan kolagen yang dipercepat oleh rokok. Ini bukan sekadar estetika, melainkan pertanda kerusakan jaringan yang lebih dalam.”
3. Ancaman pada Kesehatan Jantung
Sebagai dokter jantung, Bobby menegaskan bahwa perokok perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular, termasuk aterosklerosis dan serangan jantung. Zat kimia dalam rokok meningkatkan kadar kolesterol LDL, menurunkan HDL, serta memicu peradangan pada dinding arteri. “Kombinasi faktor hormonal perempuan dan paparan asap rokok menciptakan kondisi yang sangat tidak bersahabat bagi sistem kardiovaskular,” ujar Bobby.
Data nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) mencatat bahwa pada tahun 2025, sekitar 12% perempuan dewasa di Indonesia masih aktif merokok, dan angka ini diperkirakan akan naik jika tidak ada intervensi yang tepat. Angka kematian akibat penyakit jantung pada perempuan juga menunjukkan tren peningkatan selama lima tahun terakhir.
Dr. Bobby menutup pembicaraan dengan ajakan kuat kepada masyarakat: “Berhenti merokok bukan hanya pilihan pribadi, melainkan langkah penting untuk melindungi generasi wanita dari risiko kesehatan yang dapat dicegah. Edukasi sejak dini dan kebijakan anti-rokok yang tegas sangat diperlukan.”
Upaya pemerintah dalam memperketat regulasi iklan rokok serta memperluas program berhenti merokok diharapkan dapat menurunkan angka prevalensi perokok perempuan. Sementara itu, para profesional kesehatan diminta meningkatkan penyuluhan khusus mengenai bahaya merokok pada wanita, termasuk risiko kanker payudara, penuaan dini, dan gangguan jantung.


Komentar