Media Pendidikan – 06 Mei 2026 | Jakarta – Film berjudul Nobody Loves Kay dijadwalkan masuk bioskop pada 4 Juni 2026. Film ini memperkenalkan perjalanan Kairi, anggota tim e‑sport ONIC, yang berjuang mengejar impian di arena kompetitif. Acara peluncuran resmi diadakan di Super Training Facility (STF) ONIC, Jakarta, dengan kehadiran sutradara Bernardus Raka, produser eksekutif Giovanni Rahmadeva, serta para pemain utama.
Para pemeran meliputi Bima Azriel, Rey Bong, Aurora Ribero, Joshia Frederico, Ariyo Wahab, Basboi, Melati Putri Rahel Sesilia, Dewa Dayana, Anton E. Girgis, Aya Strophile, Putri Intan, Anif Bulbul, Adam Farrel, Ayu Inten, Abun Hadi, Wina Marrino, dan Berti Galang Dwi Febrianto. Total ada 18 aktor yang menghidupkan karakter‑karakter dalam film yang menggabungkan elemen gaming dan drama coming‑of‑age.
Sutradara Bernardus Raka menjelaskan bahwa cerita ini beresonansi dengan pengalamannya pribadi. “Karena saat pertama kali aku mendengar cerita dari Kairi, seperti melihat cerita aku,” ujarnya pada media gathering. Ia menambahkan bahwa perjuangan karakter utama dan dirinya memiliki benang merah yang kuat, sehingga terasa sangat rel‑atable.
Raka sebelumnya menggarap versi pendek cerita ini bersama beberapa kolaborator. Setelah menilai bahwa kedalaman narasi lebih cocok untuk format panjang, tim produksi memutuskan mengembangkan film penuh. “Gamer dan non‑gamer memang menjadi satu hal yang didiskusikan antara aku dan produser. Tapi, selama proses penulisan dan akhirnya melihat hasilnya, gamer dan non‑gamer sama‑sama manusia, ya ceritanya sama,” kata Raka.
Produser Giovanni Rahmadeva menilai proyek ini layak karena kedekatannya dengan realitas e‑sport Indonesia. Ia menekankan pentingnya menyampaikan tema universal seperti mimpi, pengorbanan, dan tekanan sosial sehingga dapat dinikmati semua kalangan. “Ketika Raka bilang underprivileged, itu yang harus ikut dirasakan, kalau menurut Raka dia belum punya skill, kami tetap yakin filmnya akan baik. Tapi saat bisa refleksi ke diri sendiri, berarti artinya sudah kena,” pungkasnya.
Proses produksi tidak lepas dari tantangan, mulai dari keraguan pada tahap penulisan naskah hingga keputusan teknis saat syuting. Tim berusaha menyeimbangkan sudut pandang karakter, memastikan emosi penonton terhubung baik bagi mereka yang akrab dengan dunia gaming maupun yang tidak.
Dengan latar Jakarta dan fasilitas pelatihan ONIC, film ini menampilkan adegan-adegan yang menggambarkan kompetisi e‑sport tingkat nasional. Data resmi menyebutkan bahwa ONIC menempati peringkat lima besar di liga Indonesia pada tahun 2025, menambah kredibilitas cerita yang diangkat.
Penayangan perdana dijadwalkan di lebih dari 100 bioskop di seluruh Indonesia, menandai langkah signifikan bagi industri perfilman yang mengangkat tema e‑sport. Diharapkan Nobody Loves Kay tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi generasi muda untuk mengejar passion mereka, baik di dunia digital maupun konvensional.


Komentar