Nasional
Beranda » Berita » Fakta Baru Ijazah Jokowi: Watermark “Gadhaj Adam” Ditemukan dan Ternyata Ada di Alumni Lain

Fakta Baru Ijazah Jokowi: Watermark “Gadhaj Adam” Ditemukan dan Ternyata Ada di Alumni Lain

Fakta Baru Ijazah Jokowi: Watermark "Gadhaj Adam" Ditemukan dan Ternyata Ada di Alumni Lain
Fakta Baru Ijazah Jokowi: Watermark "Gadhaj Adam" Ditemukan dan Ternyata Ada di Alumni Lain

Media Pendidikan – 05 Mei 2026 | Jakarta, 5 Mei 2026 – Ketua Umum Jokman Nusantara Bersatu, Andi Azwan, mengungkap temuan baru pada ijazah resmi Presiden Republik Indonesia ke‑7, Joko Widodo (Jokowi). Menurut Azwan, terdapat watermark berlabel “Gadhaj Adam” yang tidak hanya muncul pada dokumen tersebut, melainkan juga terdeteksi pada ijazah alumni lain dari institusi yang sama.

Pengungkapan ini muncul di tengah sorotan publik terhadap keabsahan dokumen akademik pejabat tinggi. Andi Azwan menegaskan bahwa watermark tersebut merupakan elemen keamanan yang biasanya disisipkan oleh lembaga pendidikan untuk memverifikasi keaslian sertifikat. “Watermark ‘Gadhaj Adam’ ditemukan pada ijazah Presiden Joko Widodo dan juga terlihat pada dokumen alumni lain,” ujarnya dalam sebuah pernyataan resmi yang dirilis pada Senin, 5 Mei 2026.

Baca juga:

Fakta baru ini menambah rangkaian kontroversi yang pernah mewarnai perdebatan publik tentang latar belakang pendidikan Jokowi. Meskipun tidak ada tuduhan langsung mengenai pemalsuan, kehadiran watermark yang sama pada alumni lain dapat menjadi indikator adanya sistem keamanan dokumen yang belum sepenuhnya terstandardisasi.

Data pendukung yang disampaikan oleh pihak Jokman Nusantara Bersatu mencakup analisis visual pada tiga ijazah yang berbeda, termasuk satu ijazah yang dimiliki oleh seorang alumni teknik sipil tahun 2012 dan satu lagi milik alumni ilmu sosial tahun 2015. Kedua dokumen tersebut menampilkan watermark “Gadhaj Adam” pada posisi yang serupa dengan yang ditemukan pada ijazah Jokowi, yaitu pada pojok kanan atas halaman pertama.

Baca juga:

Sejumlah pakar keamanan dokumen menyatakan bahwa penggunaan watermark ganda dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan bila tidak dikelola dengan prosedur yang tepat. “Jika watermark tidak unik per lulusan, maka peluang untuk memalsukan atau mengubah isi dokumen menjadi lebih besar,” ujar Dr. Budi Santoso, pakar forensik digital, dalam wawancara singkat.

Hingga saat ini, pihak institusi pendidikan yang mengeluarkan ijazah tersebut belum memberikan komentar resmi. Sementara itu, Andi Azwan menutup pernyataannya dengan menekankan pentingnya transparansi dalam proses verifikasi akademik, terutama bagi tokoh publik yang perannya menjadi sorotan luas.

Baca juga:

Pengungkapan ini diharapkan mendorong pihak berwenang untuk meninjau kembali mekanisme keamanan ijazah dan memperkuat standar verifikasi dokumen akademik di Indonesia. Perkembangan selanjutnya akan terus dipantau seiring dengan upaya klarifikasi yang sedang berlangsung.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *