Sains & Teknologi
Beranda » Berita » Awan Warna-Warni di Jonggol Bukan Pelangi Biasa, Penjelasan Ahli IPB

Awan Warna-Warni di Jonggol Bukan Pelangi Biasa, Penjelasan Ahli IPB

Media Pendidikan – 05 Mei 2026 | Beberapa waktu belakangan, fenomena awan berwarna-warni muncul di langit Jonggol, Bogor, mengundang perhatian warganet. Gambar-gambar berwarna cerah itu menjadi viral di media sosial, menimbulkan pertanyaan apakah itu pelangi biasa atau sesuatu yang lain.

Ia menambahkan bahwa kondisi atmosfer di wilayah Jonggol pada saat itu sangat mendukung terjadinya efek optik tersebut. Kelembapan tinggi, bersama dengan polutan partikel halus yang berasal dari aktivitas perkotaan dan pertanian, menciptakan medium yang mampu memecah cahaya matahari menjadi spektrum warna yang lebih luas dibandingkan pelangi standar.

Baca juga:

Detail Teknis dan Lokasi

Data cuaca yang dipantau oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa pada sore hari tanggal 12 April 2024, suhu rata‑rata di Jonggol mencapai 28°C dengan kelembapan relatif 85 %. Angin berhembus ringan dari arah barat daya, memperlambat penyebaran partikel di atmosfer.

Dalam kondisi tersebut, cahaya matahari yang masuk pada sudut rendah mengalami refraksi yang lebih kuat pada partikel-partikel mikroskopik. Hasilnya, awan tampak berlapis warna yang meliputi merah, oranye, kuning, hijau, biru, hingga ungu, serupa spektrum pelangi namun lebih intens dan meluas.

Baca juga:

Peneliti IPB juga menyoroti perbedaan visual dengan pelangi tradisional. Pelangi biasanya terbentuk ketika sinar matahari menembus tetesan air hujan, menghasilkan busur melengkung yang terletak di atas horizon. Sementara itu, awan warna‑warna di Jonggol tampak lebih menyebar secara horizontal dan menempel pada awan tipis di ketinggian rendah, sehingga memberi kesan “langit berwarna”.

Reaksi Masyarakat

Warga setempat melaporkan rasa takjub saat menyaksikan fenomena itu. “Saya sempat berhenti sejenak di jalan, mengangkat kepala dan melihat langit seakan menjadi kanvas pelukis,” kata Budi Santoso, seorang pedagang pasar di Jonggol. Foto‑foto yang diunggah di Instagram dan TikTok memperoleh puluhan ribu tampilan dalam hitungan jam.

Baca juga:

Para ilmuwan menekankan pentingnya edukasi publik mengenai fenomena alam yang tidak biasa ini. Menurut Prof. Rudi, pemahaman yang tepat dapat mencegah penyebaran mitos atau kepanikan yang tidak berdasar.

Ke depan, tim peneliti IPB berencana melakukan pemantauan lanjutan menggunakan lidar dan sensor aerosol untuk mengukur konsentrasi partikel secara lebih akurat. Hasil studi diharapkan dapat memperkaya literatur tentang interaksi cahaya dan partikel di atmosfer tropis, serta memberikan panduan bagi lembaga terkait dalam menginformasikan publik.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *