Ekonomi
Beranda » Berita » Neraca Perdagangan Indonesia Tetap Surplus di Maret 2026, Tanda Kekuatan Ekspor Nonmigas

Neraca Perdagangan Indonesia Tetap Surplus di Maret 2026, Tanda Kekuatan Ekspor Nonmigas

Neraca Perdagangan Indonesia Tetap Surplus di Maret 2026, Tanda Kekuatan Ekspor Nonmigas
Neraca Perdagangan Indonesia Tetap Surplus di Maret 2026, Tanda Kekuatan Ekspor Nonmigas

Media Pendidikan – 05 Mei 2026 | Jakarta, 4 Mei 2026 – Pemerintah Indonesia mencatat neraca perdagangan masih berada di posisi surplus pada bulan Maret 2026, dengan selisih perdagangan sebesar USD 3,32 miliar. Secara kumulatif Januari hingga Maret 2026, surplus mencapai USD 5,55 miliar, menandai bulan ke-71 berturut‑turut sejak Mei 2020.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, menjelaskan bahwa surplus ini dipicu oleh kinerja positif sektor nonmigas yang mencatat surplus sebesar USD 10,63 miliar, sementara sektor migas masih mengalami defisit USD 5,08 miliar. "Surplus neraca perdagangan nonmigas ditopang lima komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewan atau nabati, bahan bakar mineral, besi dan baja serta alas kaki." ia menambahkan dalam konferensi pers.

Baca juga:

Ekspor Indonesia pada kuartal pertama 2026 mencapai USD 66,85 miliar, naik 0,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekspor terutama didorong oleh sektor industri pengolahan yang meningkat 3,96 persen menjadi USD 54,98 miliar. Tiga pasar tujuan ekspor nonmigas teratas adalah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India, yang bersama‑sama menyumbang 44,48 persen total ekspor nonmigas. Tiongkok tetap menjadi pembeli utama dengan nilai USD 16,50 miliar atau 25,94 persen.

Komoditas yang paling banyak diekspor ke Tiongkok meliputi besi dan baja, nikel serta produk turunannya, serta bahan bakar mineral. Di sisi lain, impor Indonesia selama Januari‑Maret 2026 tercatat sebesar USD 61,30 miliar, naik 10,05 persen YoY. Impor nonmigas menyumbang USD 52,97 miliar dengan pertumbuhan 12,16 persen, sedangkan impor migas turun 1,72 persen menjadi USD 8,33 miliar.

Baca juga:

Pembelian barang modal, bahan baku/penolong, serta barang konsumsi menjadi pendorong utama peningkatan impor. Nilai impor bahan baku/penolong tercatat USD 43,17 miliar. Tiongkok kembali menjadi negara asal impor nonmigas terbesar dengan nilai USD 22,02 miliar.

Data BPS menegaskan bahwa meski kondisi geopolitik global masih bergejolak, Indonesia berhasil mempertahankan surplus perdagangan berkelanjutan berkat diversifikasi komoditas ekspor dan penurunan impor migas. Pemerintah diperkirakan akan terus memfokuskan kebijakan pada peningkatan nilai tambah produk nonmigas serta memperkuat rantai pasok domestik untuk menjaga stabilitas neraca perdagangan ke depan.

Baca juga:

Dengan pencapaian ini, Indonesia menunjukkan ketahanan ekonomi yang signifikan di tengah ketidakpastian pasar internasional, sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memperluas penetrasi pasar ekspor, khususnya pada komoditas berbasis logam dan bahan bakar mineral.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *