Media Pendidikan – 05 Mei 2026 | Harga Minyak Mentah kembali turun pada perdagangan Selasa (5/5) setelah serangkaian serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak.
Serangan Iran memicu aksi militer AS, termasuk pendampingan aset militer terhadap sebuah kapal pengangkut kendaraan berbendera AS yang dioperasikan oleh unit Farrell Lines, Maersk Alliance Fairfax, yang berhasil keluar dari Selat Hormuz pada Senin (4/5). Keberhasilan tersebut meredakan kekhawatiran tentang potensi gangguan pasokan jangka pendek.
Komando Pusat AS (Centcom) menegaskan, “pasukan secara aktif membantu upaya memulihkan pelayaran komersial melalui Selat Hormuz,” menunjukkan komitmen Washington untuk menjaga kelancaran jalur energi strategis.
Sebelumnya, pada perdagangan Senin (4/5), harga minyak sempat melonjak lebih dari 6 persen setelah Presiden Donald Trump meluncurkan operasi baru untuk membuka kembali Selat Hormuz. Operasi tersebut memicu balasan Iran, termasuk serangan terhadap beberapa kapal komersial dan kebakaran di sebuah pelabuhan minyak UEA.
Pasar kini menilai bahwa keberhasilan kapal berawak militer AS menembus selat tersebut dapat menurunkan risiko gangguan jangka pendek, sehingga memperbaiki sentimen trader. Data perdagangan menunjukkan penurunan volume jual dan pergeseran ke posisi beli ringan di bursa berjangka.
Dengan harga WTI berada di kisaran US$104,88, para analis memperkirakan volatilitas tetap tinggi selama beberapa hari ke depan, terutama jika aksi militer lanjutan atau serangan tambahan terjadi di wilayah tersebut. Namun, penurunan harga ini memberi sedikit ruang napas bagi konsumen energi global yang tengah menghadapi tekanan inflasi.
Ke depannya, perhatian akan terpusat pada langkah-langkah diplomatik antara Washington dan Tehran serta kemampuan militer AS dalam memastikan keamanan jalur pelayaran. Kondisi ini akan menentukan arah pergerakan harga minyak mentah dalam minggu-minggu mendatang.


Komentar