Media Pendidikan – 30 April 2026 | Studi terbaru yang dipublikasikan oleh Viva.com mengungkap bahwa 88 persen warga Indonesia mengonsumsi suplemen secara rutin sebagai langkah preventif untuk menjaga kebugaran, namun mayoritas di antaranya tampaknya belum memilih produk yang tepat sesuai kebutuhan tubuh.
Fenomena peningkatan konsumsi suplemen tidak terlepas dari kesadaran masyarakat akan pentingnya gaya hidup sehat. Banyak individu berupaya mengurangi frekuensi kunjungan ke fasilitas kesehatan dengan mengandalkan suplemen sebagai penunjang daya tahan tubuh, energi, serta keseimbangan nutrisi harian.
Penelitian yang melibatkan responden dari berbagai wilayah Indonesia menemukan bahwa hampir sembilan dari sepuluh orang dewasa mengaku mengonsumsi suplemen setidaknya sekali dalam seminggu. Meskipun angka partisipasi tinggi, data menunjukkan adanya kesenjangan pengetahuan terkait jenis, dosis, dan manfaat spesifik yang seharusnya dipenuhi oleh setiap suplemen.
Beberapa faktor utama yang memicu kesalahan pemilihan suplemen antara lain kurangnya edukasi dari tenaga medis, pengaruh iklan yang menonjolkan klaim manfaat tanpa bukti ilmiah, serta kecenderungan konsumen mengikuti tren populer tanpa menyesuaikannya dengan kondisi kesehatan pribadi. Akibatnya, sebagian besar pengguna berakhir membeli produk yang tidak relevan atau bahkan berpotensi menimbulkan efek samping.
“Studi: 88 Persen Orang Indonesia Rutin Minum Suplemen, Tapi Banyak yang Salah Pilih!” menjadi sorotan utama dalam laporan tersebut, menegaskan perlunya pendekatan yang lebih terarah dalam penyuluhan nutrisi. Peneliti menekankan pentingnya konsultasi dengan ahli gizi atau dokter sebelum memulai regimen suplemen, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi medis khusus.
Data tambahan menunjukkan bahwa 60 persen responden mengandalkan rekomendasi teman atau media sosial dalam menentukan pilihan suplemen, sementara hanya 25 persen yang melaporkan konsultasi dengan profesional kesehatan. Hal ini memperkuat argumen bahwa keputusan yang didasarkan pada informasi yang tidak terverifikasi dapat memperburuk efektivitas suplementasi.
Menutup temuan ini, para ahli menyerukan peningkatan program edukasi publik yang menyoroti cara membaca label produk, memahami kebutuhan nutrisi individu, dan menilai keabsahan klaim pemasaran. Dengan pengetahuan yang memadai, diharapkan konsumen dapat mengoptimalkan manfaat suplemen tanpa menimbulkan risiko kesehatan, sekaligus mengurangi pemborosan finansial akibat pembelian produk yang tidak tepat.


Komentar