Media Pendidikan – 30 April 2026 | Tokoh agama senior Buya Yahya menegaskan kembali ancaman serius dari praktik menggunjing orang dalam sebuah ceramah yang disiarkan oleh Viva.co.id. Ia memperingatkan bahwa kebiasaan menggunjing tidak hanya bersifat sosial, melainkan dapat menjadi dosa besar yang berpotensi menghapus pahala yang telah dikumpulkan seorang Muslim secara tidak disadari.
Pengertian dan Dampak Menggunjing
Buya Yahya menambahkan bahwa dosa menggunjing dapat menimbulkan kerusakan moral dalam masyarakat, menurunkan rasa saling percaya, serta menimbulkan konflik yang tidak perlu. Ia mengingatkan bahwa setiap perkataan yang menodai nama baik orang lain memiliki konsekuensi spiritual yang berat.
Hukum Islam Tentang Menggunjing
Dalam perspektif syariah, menggunjing termasuk dalam kategori fitnah yang dilarang keras. Al‑Qur’an dan Hadits menekankan pentingnya menjaga lidah, menghindari ucapan yang dapat merusak reputasi orang lain. Buya Yahya mengutip ayat Al‑Qur’an yang menyatakan bahwa orang yang menuduh tanpa bukti akan mendapat siksaan yang berat di akhirat.
Ia juga mengingatkan bahwa pahala seorang Muslim dapat berkurang secara bertahap jika ia sering terlibat dalam perbuatan menggunjing. Meskipun tidak ada angka pasti dalam sumber, ia menekankan bahwa konsekuensi spiritual ini tidak dapat diukur secara duniawi, namun dampaknya sangat nyata dalam penilaian akhirat.
Upaya Pencegahan dan Solusi
Untuk menghindari dosa ini, Buya Yahya menyarankan beberapa langkah praktis: pertama, menahan diri sebelum berbicara, terutama bila informasi belum terverifikasi; kedua, mengingatkan diri sendiri bahwa setiap kata memiliki nilai pahala atau dosa; ketiga, memperbanyak amalan baik seperti shalat, sedekah, dan membaca Al‑Qur’an sebagai penyeimbang.
Ia juga mengajak umat untuk menumbuhkan budaya saling menghargai, memperkuat solidaritas, serta menegakkan keadilan melalui dialog yang konstruktif daripada menyebarkan fitnah. Dengan demikian, dampak negatif menggunjing dapat diminimalisir, dan pahala yang telah terakumulasi tetap terjaga.
Buya Yahya menutup ceramah dengan harapan agar setiap muslim senantiasa introspeksi diri, menjaga lisan, dan berupaya menjadi pribadi yang lebih baik dalam interaksi sosial. Ia menegaskan, “Jika kita dapat mengendalikan lidah, maka kita juga dapat melindungi pahala dan memperkuat keimanan.”


Komentar