Media Pendidikan – 25 April 2026 | Sejumlah napi Lapas Kelas 1 Tangerang kini turut serta dalam operasional dapur MBG (Mitra Bantu Gizi) setelah melewati serangkaian seleksi ketat yang mencakup tes psikologi, pemeriksaan kesehatan, dan penilaian disiplin.
Program kerja narapidana di dapur MBG merupakan inisiatif pemerintah daerah untuk meningkatkan keterampilan kerja serta mengoptimalkan pemanfaatan tenaga kerja di fasilitas publik. Penempatan ini dimulai pada awal bulan April 2026 dan difokuskan pada napi yang berada di Lapas Kelas 1 Tangerang, sebuah institusi pemasyarakatan dengan kapasitas menampung lebih dari 1.200 narapidana.
Proses seleksi dimulai dengan tes psikologi yang dirancang untuk menilai stabilitas emosional, kemampuan kerja sama, dan risiko perilaku agresif. Selanjutnya, napi menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh, meliputi tes darah, skrining penyakit menular, serta evaluasi kondisi fisik untuk memastikan kemampuan menjalankan tugas berat di dapur. Hasil kedua tahap tersebut kemudian diverifikasi oleh tim medis dan psikolog Lapas sebelum diberikan rekomendasi kepada pihak MBG.
“Seleksi ketat mulai dari tes psikologi hingga kesehatan,” ujar petugas Lapas yang menjelaskan bahwa hanya napi yang lolos semua tahapan yang diizinkan masuk ke area dapur.
Setelah dinyatakan layak, napi mengikuti pelatihan dasar kebersihan pangan, penggunaan peralatan dapur, serta prosedur keamanan kerja. Pelatihan ini berlangsung selama tiga hari dan diawasi langsung oleh staf MBG yang berpengalaman. Pada akhir pelatihan, napi diberikan sertifikat internal sebagai bukti kelulusan, yang menjadi syarat utama untuk mulai terlibat dalam proses memasak dan distribusi makanan di dapur MBG.
Penggunaan napi dalam kegiatan dapur tidak hanya membantu mengurangi beban biaya operasional, tetapi juga memberikan peluang rehabilitasi melalui pembelajaran keterampilan kerja yang dapat berguna setelah masa hukuman selesai. Hingga kini, sekitar tiga puluh napi telah berhasil menyelesaikan seluruh proses seleksi dan kini aktif menyiapkan hidangan untuk sejumlah program sosial di wilayah Tangerang.
Ke depan, pihak Lapas berencana memperluas skema ini ke Lapas lain di Jabodetabek, dengan menambah jumlah napi yang terlatih dan memperkuat koordinasi antara lembaga pemasyarakatan dan MBG. Pengawasan ketat serta evaluasi berkala tetap menjadi prioritas untuk memastikan program tetap aman, efektif, dan memberikan manfaat bagi semua pihak.


Komentar