Media Pendidikan – 25 April 2026 | PT Bank Negara Indonesia (BNI) kembali menegaskan pentingnya perlindungan data pribadi kepada seluruh nasabahnya. Bank tersebut menyoroti ancaman siber yang kian mengancam, khususnya praktik vishing, phishing, dan teknik rekayasa sosial lainnya.
Dalam rangka meningkatkan kesadaran publik, BNI meluncurkan serangkaian program edukasi yang menargetkan semua segmen nasabah, mulai dari nasabah ritel hingga korporat. Program ini mencakup materi pelatihan daring, seminar tatap muka, serta penyebaran panduan keamanan digital melalui aplikasi perbankan.
Vishing, yakni penipuan melalui panggilan suara, menjadi salah satu modus yang paling umum. Penipu biasanya menghubungi korban dengan dalih masalah transaksi atau verifikasi keamanan, lalu meminta nomor rekening, PIN, atau kode OTP. Phishing, di sisi lain, menggunakan email atau pesan teks yang tampak sah untuk mengarahkan korban ke situs palsu yang meniru portal resmi BNI.
BNI mencatat bahwa selama beberapa bulan terakhir, laporan terkait vishing dan phishing meningkat secara signifikan di seluruh wilayah Indonesia. Meskipun angka pasti tidak dipublikasikan, tren tersebut mendorong bank untuk memperkuat mekanisme deteksi dini dan respons cepat.
Untuk menanggulangi hal tersebut, BNI menambahkan lapisan keamanan pada layanan perbankan digitalnya, termasuk otentikasi dua faktor, pemantauan transaksi abnormal, dan notifikasi real‑time ketika terjadi aktivitas mencurigakan. Nasabah yang menerima panggilan atau pesan mencurigakan diharapkan langsung menghubungi call center resmi BNI tanpa menuruti permintaan data.
Selain itu, BNI bekerja sama dengan otoritas terkait, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), guna memperkuat sinergi dalam pencegahan kejahatan siber. Kolaborasi ini mencakup pertukaran informasi intelijen serta penyusunan pedoman bersama bagi industri perbankan.
Program edukasi yang digencarkan BNI juga menekankan pentingnya memperbarui perangkat lunak, mengaktifkan pembaruan keamanan secara otomatis, serta menghindari penggunaan jaringan Wi‑Fi publik saat melakukan transaksi keuangan.
Bank juga menyarankan nasabah untuk secara rutin memeriksa riwayat transaksi dan melaporkan segala anomali kepada pihak bank. Dengan langkah-langkah proaktif ini, BNI berharap dapat menurunkan angka kerugian akibat penipuan siber dan membangun kepercayaan publik yang lebih kuat.
Secara keseluruhan, inisiatif BNI mencerminkan komitmen industri perbankan Indonesia dalam melindungi konsumen dari ancaman digital yang terus berevolusi. Melalui edukasi, teknologi, dan kerja sama lintas sektor, bank berupaya menciptakan ekosistem perbankan yang lebih aman dan resilient.


Komentar