Pendidikan
Beranda » Berita » Kemendikdasmen Luncurkan PJJ di 83 Sekolah, Target Raih 3.500 Anak Putus Sekolah

Kemendikdasmen Luncurkan PJJ di 83 Sekolah, Target Raih 3.500 Anak Putus Sekolah

Kemendikdasmen Luncurkan PJJ di 83 Sekolah, Target Raih 3.500 Anak Putus Sekolah
Kemendikdasmen Luncurkan PJJ di 83 Sekolah, Target Raih 3.500 Anak Putus Sekolah

Media Pendidikan – 24 April 2026 | JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) menyiapkan program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di 83 sekolah pada tahun 2024. Program ini bertujuan mengaktifkan kembali 3.500 anak yang sebelumnya putus sekolah, sekaligus memperluas akses pendidikan di daerah yang masih terbatas fasilitasnya.

Program PJJ akan dilaksanakan secara bertahap mulai kuartal pertama hingga akhir tahun. Sekolah yang terpilih tersebar di berbagai provinsi, mencakup wilayah perkotaan dan pedesaan. Setiap sekolah akan diberikan paket belajar digital, termasuk perangkat tablet, materi pelajaran berbasis video, serta modul interaktif yang dapat diakses melalui jaringan internet atau jaringan lokal bila koneksi belum memadai.

Baca juga:

PKPLK menegaskan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan pihak swasta untuk menjamin kelancaran distribusi perangkat serta pelatihan guru. “Kami ingin memastikan setiap anak, terutama yang terancam putus sekolah, mendapat kesempatan belajar yang layak meski berada di rumah,” ujar Kepala Direktorat PKPLK, Dr. Siti Nurhayati dalam konferensi pers di Jakarta.

Target 3.500 anak putus sekolah didasarkan pada data kemiskinan pendidikan yang dikumpulkan pada tahun sebelumnya. Dari angka tersebut, sebagian besar anak berada di daerah dengan infrastruktur pendidikan terbatas, sehingga PJJ menjadi alternatif paling realistis. Untuk memantau kemajuan, Kemendikdasmen akan mengadakan evaluasi bulanan yang meliputi kehadiran siswa, tingkat penyelesaian modul, serta umpan balik dari orang tua.

Selain penyediaan perangkat, program ini juga mencakup pelatihan intensif bagi guru dalam mengelola kelas virtual. Guru akan dibekali kompetensi teknis serta pedagogik yang sesuai dengan karakteristik pembelajaran jarak jauh. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas interaksi antara guru dan siswa, meski tanpa tatap muka langsung.</n

Baca juga:

Secara geografis, daerah yang paling banyak mendapat manfaat meliputi provinsi-provinsi dengan tingkat putus sekolah tertinggi, seperti Nusa Tenggara Barat, Papua, dan beberapa kabupaten di Jawa Tengah. Di setiap lokasi, tim lapangan akan melakukan survei kebutuhan untuk menyesuaikan materi pembelajaran dengan kurikulum lokal.

Program PJJ ini juga membuka peluang bagi orang tua untuk terlibat lebih aktif dalam proses belajar anak. Melalui aplikasi resmi yang dikembangkan Kemendikdasmen, orang tua dapat memantau progres belajar, mengakses materi tambahan, serta berkomunikasi langsung dengan guru. “Keterlibatan orang tua menjadi kunci keberhasilan program ini, karena mereka dapat membantu memotivasi anak di rumah,” tambah Dr. Siti.

Dengan menggerakkan 83 sekolah sekaligus, Kemendikdasmen berharap dapat menurunkan angka putus sekolah secara signifikan pada akhir 2024. Jika target tercapai, inisiatif ini akan menjadi model replikasi bagi program serupa di masa mendatang, terutama dalam menghadapi tantangan pendidikan di era digital.

Baca juga:

Ke depan, kementerian berencana memperluas jangkauan PJJ ke lebih banyak sekolah dan menambah jumlah anak yang dapat dirangkul, sejalan dengan agenda Nasional Penurunan Putus Sekolah 2025. Implementasi program ini diharapkan tidak hanya memberi solusi jangka pendek, tetapi juga menumbuhkan budaya belajar mandiri yang berkelanjutan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *