Media Pendidikan – 22 April 2026 | Presiden Indonesia Prabowo Subianto menerima Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, dalam pertemuan yang berlangsung di Istana Negara, Jakarta, untuk membahas strategi memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah ketegangan geopolitik global.
Pertemuan ini menandai langkah koordinasi tinggi antara kepemimpinan eksekutif dan lembaga kebijakan ekonomi setelah serangkaian gejolak pasar internasional, termasuk fluktuasi harga energi, gangguan rantai pasok, dan tekanan inflasi yang melanda banyak negara. Luhut, yang juga menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, menyampaikan bahwa Indonesia harus mengantisipasi dampak eksternal dengan memperkuat sektor produksi dalam negeri.
“Kami harus meningkatkan ketahanan ekonomi di tengah ketegangan global,” ujar Prabowo dalam sambutannya. Ia menekankan pentingnya diversifikasi ekspor, pengembangan industri hilir, serta percepatan digitalisasi UMKM sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada pasar luar negeri.
Luhut menambahkan bahwa data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi konsumen pada kuartal terakhir mencapai 6,1 persen, sementara nilai tukar rupiah berfluktuasi antara 14.800 hingga 15.200 per dolar AS. Menurutnya, stabilitas nilai tukar dan kebijakan moneter yang prudent menjadi kunci menjaga daya beli masyarakat.
Dalam rangka mengimplementasikan rekomendasi tersebut, kedua pemimpin sepakat untuk memperkuat tiga pilar utama: 1) peningkatan investasi dalam infrastruktur energi terbarukan, 2) optimalisasi zona ekonomi khusus (KEK) yang berfokus pada teknologi tinggi, dan 3) pembentukan dana cadangan strategis yang dapat diaktifkan saat terjadi goncangan eksternal. Penekanan pada energi terbarukan bertujuan menurunkan biaya produksi sekaligus mendukung komitmen Indonesia terhadap netralitas karbon pada tahun 2060.
Selanjutnya, Luhut mengusulkan pembentukan forum lintas sektor yang melibatkan perwakilan swasta, akademisi, dan lembaga keuangan untuk menyusun roadmap ketahanan ekonomi jangka menengah. Forum tersebut diharapkan dapat menghasilkan kebijakan yang responsif terhadap perubahan pasar global, termasuk penyesuaian tarif impor bahan baku kritis.
Pertemuan ini juga menyinggung pentingnya memperkuat kerja sama bilateral dengan negara‑negara mitra, khususnya dalam bidang teknologi dan logistik. Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak dapat mengisolasi diri, melainkan harus menjadi “pemain utama” yang adaptif dalam rantai nilai regional.
Dengan agenda tersebut, kedua pejabat menyepakati jadwal evaluasi triwulanan untuk meninjau progres pelaksanaan kebijakan. Hasil evaluasi akan dilaporkan kepada publik melalui rapat pers bersama, guna meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pemerintah.
Secara keseluruhan, pertemuan antara Prabowo dan Luhut menegaskan komitmen pemerintah Indonesia untuk membangun ekonomi yang tangguh, mampu menyerap guncangan eksternal, dan tetap kompetitif di pasar global.


Komentar