Media Pendidikan – 21 April 2026 | Jakarta, 20 April 2026 – Mantan Presiden Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, memperingati Konferensi Asia-Afrika (KAA) dengan menyinggung kembali visi besar pendiri bangsa, Ir. Soekarno, dalam sebuah acara kenegaraan yang dihadiri para pejabat tinggi dan tokoh sejarah.
Acara tersebut diadakan di Istana Negara, menandai pentingnya KAA sebagai tonggak sejarah dunia yang melibatkan 29 negara, mewakili lebih dari separuh populasi global pada masa itu. Megawati menekankan bahwa semangat kebersamaan dan kemandirian yang dibangun oleh Soekarno pada KAA tetap relevan dalam dinamika politik internasional saat ini.
Latar Belakang Konferensi Asia-Afrika
KAA, yang pertama kali diselenggarakan di Bandung pada tahun 1955, menjadi platform utama bagi negara-negara baru merdeka di Asia dan Afrika untuk menyuarakan aspirasi mereka di panggung dunia. Dengan melibatkan 29 negara, konferensi ini mencakup lebih dari 50 persen populasi dunia, menandakan besarnya dukungan terhadap agenda perdamaian, anti‑kolonialisme, dan kerjasama ekonomi.
Soekarno, sebagai tuan rumah dan visioner utama, menekankan pentingnya solidaritas antarbangsa, penolakan terhadap imperialisme, serta upaya bersama untuk mencapai kemajuan sosial‑ekonomi. Visi tersebut dijadikan landasan bagi gerakan non‑blok yang kemudian terbentuk.
Peringatan KAA tahun ini tidak hanya sekadar mengenang peristiwa sejarah, melainkan juga menjadi momentum refleksi atas tantangan global seperti perubahan iklim, ketidaksetaraan ekonomi, dan konflik geopolitik yang masih mengancam stabilitas kawasan.
Megawati Mengingat Visi Soekarno
Dalam sambutannya, Megawati menuturkan, “Saya selalu teringat akan tekad Soekarno untuk memperkuat solidaritas antarbangsa, mengedepankan kemandirian, dan menolak segala bentuk penjajahan. Nilai‑nilai itu harus terus kita junjung di era modern ini.” Pernyataan tersebut menggambarkan komitmen pemerintah Indonesia untuk meneruskan warisan diplomasi aktif yang berlandaskan pada prinsip-prinsip KAA.
Ia menambahkan bahwa Indonesia tetap berperan sebagai jembatan dialog antara negara‑negara berkembang, sekaligus memperkuat jaringan kerja sama ekonomi melalui ASEAN, G20, dan forum‑forum internasional lainnya. Megawati juga menekankan pentingnya generasi muda untuk memahami sejarah KAA agar dapat menerapkan semangat persatuan dalam konteks global yang semakin kompleks.
Data Pendukung dan Dampak KAA
- 29 negara peserta mewakili lebih dari 50% populasi dunia pada 1955.
- Lebih dari 2.000 delegasi hadir dalam konferensi pertama di Bandung.
- Konferensi menghasilkan Deklarasi Bandung yang menegaskan prinsip kedaulatan, non‑intervensi, dan kerja sama ekonomi.
Statistik tersebut menunjukkan betapa signifikan peran KAA dalam membentuk arsitektur politik dunia pasca‑Perang Dingin, sekaligus menjadi sumber inspirasi bagi gerakan kemerdekaan di seluruh benua.
Acara peringatan juga diisi dengan pameran foto-foto arsip, dokumen asli, serta diskusi panel yang mengupas relevansi KAA dalam kebijakan luar negeri Indonesia saat ini. Para akademisi menyoroti bahwa nilai‑nilai kebersamaan yang diusung oleh Soekarno masih menjadi acuan dalam merumuskan strategi diplomatik, terutama dalam menghadapi tantangan perdagangan internasional dan keamanan regional.
Dengan menegaskan kembali visi Soekarno, Megawati berharap bahwa semangat KAA dapat menjadi landasan bagi Indonesia untuk terus berperan aktif dalam menciptakan dunia yang lebih adil, damai, dan berkelanjutan.


Komentar