Media Pendidikan – 20 April 2026 | Gresik, 19 April 2026 – Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 8 persen pada tahun 2029. Untuk mewujudkannya, Kementerian Keuangan melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank mengaktifkan kembali Program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) yang pertama kali diluncurkan pada 2021.
Direktur Pengelolaan Risiko Keuangan Negara, Tony Prianto, menegaskan bahwa mengandalkan konsumsi rumah tangga saja tidak cukup. “Pemerintah memandang ada beberapa sektor ekspor yang perlu dimasuki oleh industri, tetapi industri butuh dukungan dari pemerintah,” ujarnya dalam kunjungan media di Gresik. Ia menambahkan bahwa selain program PKE, pemerintah juga menyiapkan fasilitas fiskal lain yang bersifat komplementer untuk meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.
Program PKE didanai dari Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp13,7 triliun. Hingga kini, penyaluran mencapai Rp13 triliun dan telah menghasilkan devisa ekspor lebih dari Rp37 triliun. Sebanyak 270 eksportir telah menjadi penerima manfaat, menyalurkan barang ke 90 negara dengan lebih dari 30 jenis komoditas. Dari kegiatan tersebut, laba bersih tercatat Rp742 miliar, dan setiap satu rupiah yang diinvestasikan melalui PKE menghasilkan dampak pembangunan tiga kali lipat.
Enam program utama PKE mencakup: ekspor ke negara non‑tradisional seperti Timur Tengah dan Eropa Timur; pembiayaan perdagangan; dukungan bagi industri alat transportasi; sektor farmasi dan alat kesehatan; serta penjaminan dan asuransi. Tiga proyek khusus meliputi industri penerbangan, pariwisata di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, dan inisiatif lain yang dirancang untuk memperluas basis ekspor.
Dengan kebijakan ini, neraca perdagangan Indonesia tetap positif. Pemerintah berupaya memperkuat ekspor sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor. Menurut Direktur Pelaksana Bisnis II Indonesia Eximbank, Sulaeman, pencapaian tersebut menunjukkan bahwa program PKE dapat menjadi motor penggerak utama bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Keberlanjutan program hingga 2029 diharapkan dapat menambah devisa, menciptakan lapangan kerja, dan menstimulasi investasi di sektor manufaktur serta jasa. Jika target tercapai, Indonesia tidak hanya akan mempertahankan pertumbuhan 8 persen, tetapi juga meningkatkan posisi tawar di pasar internasional.


Komentar