Internasional
Beranda » Berita » Iran Sambut Baik Gencatan Senjata Israel-Lebanon, Tegaskan Peran Mediasi Pakistan

Iran Sambut Baik Gencatan Senjata Israel-Lebanon, Tegaskan Peran Mediasi Pakistan

Iran Sambut Baik Gencatan Senjata Israel-Lebanon, Tegaskan Peran Mediasi Pakistan
Iran Sambut Baik Gencatan Senjata Israel-Lebanon, Tegaskan Peran Mediasi Pakistan

Media Pendidikan – 17 April 2026 | Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan pada Rabu, 10 Februari 2026, bahwa Tehran menyambut positif kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang dijadwalkan berlaku pada dini hari Jumat (17 April) WIB. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di gedung Kementerian Luar Negeri di ibu kota Teheran.

Baghaei menegaskan bahwa gencatan senjata itu merupakan bagian dari pemahaman yang lebih luas antara Iran dan Amerika Serikat, yang dimediasi oleh Pakistan. “[Iran menyambut baik] pengumuman gencatan senjata di Lebanon dan mencatat bahwa penghentian perang di Lebanon adalah bagian dari kesepahaman gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat, yang dimediasi oleh Pakistan,” ujarnya, mengutip laporan Al-Jazeera.

Baca juga:

Kesepakatan gencatan senjata ini pertama kali diumumkan oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui akun media sosialnya. Trump menyebut bahwa perjanjian tersebut akan dimulai pada Kamis (16 April) pukul 17.00 EST atau Jumat (17 April) pukul 04.00 WIB, dan akan berlangsung selama sepuluh hari. “Kedua belah pihak ingin melihat perdamaian, dan saya percaya itu akan terjadi, dengan cepat,” tambah Trump, dikutip oleh Reuters. Trump menegaskan bahwa perjanjian itu tidak hanya melibatkan pemerintah Lebanon, melainkan juga kelompok Hizbullah yang berada di bawah pengaruh Iran.

Gencatan senjata yang direncanakan mencakup penarikan kembali tembakan di sepanjang perbatasan Lebanon‑Israel serta penghentian operasi militer di wilayah Gaza yang dikuasai Israel. Menurut sumber militer Israel, operasi di wilayah tersebut melibatkan sekitar 3.000 personel, sementara Hizbullah diperkirakan menyiapkan sekitar 1.200 pejuang di sepanjang perbatasan. Kedua pihak diharapkan menurunkan intensitas tembakan pada pukul 04.00 WIB, waktu setempat, untuk memberikan ruang bagi dialog diplomatik.

Iran, yang secara tradisional mendukung Hizbullah, menilai gencatan senjata ini sebagai langkah positif yang dapat menurunkan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Baghaei menambahkan bahwa Tehran terus berkoordinasi dengan Washington melalui jalur diplomatik yang dimediasi oleh Islamabad, guna memastikan bahwa proses perdamaian tidak terganggu oleh aksi militer lebih lanjut.

Baca juga:

Sementara itu, reaksi dari pemerintah Lebanon mengindikasikan rasa lega atas penurunan ancaman militer. Perdana Menteri Lebanon menegaskan komitmen negara untuk mematuhi kesepakatan dan mengajak semua pihak untuk menghormati jalur gencatan senjata. Di sisi lain, Israel menegaskan bahwa operasi militer di Gaza tetap akan berlanjut, namun menahan diri dari serangan lintas perbatasan ke Lebanon selama periode gencatan.

Pengamat geopolitik menilai bahwa peran Pakistan sebagai mediator menambah dimensi baru dalam dinamika hubungan Iran‑AS. Pakistan, yang memiliki hubungan historis dengan kedua negara, berupaya menjaga keseimbangan antara kepentingan keamanan regional dan kepentingan politik dalam negeri. Jika berhasil, mediasi ini dapat menjadi model bagi penyelesaian konflik serupa di masa depan.

Sejauh ini, tidak ada laporan pelanggaran terhadap gencatan senjata pada tahap awal pelaksanaannya. Namun, para ahli memperingatkan bahwa situasi di Gaza tetap rentan, dan aksi militer selanjutnya dapat memicu kembali ketegangan di perbatasan Lebanon‑Israel. Kedua belah pihak diharapkan tetap berkomitmen pada jalur diplomatik guna menghindari eskalasi lebih lanjut.

Baca juga:

Dengan gencatan senjata yang telah diresmikan, mata dunia kini tertuju pada langkah selanjutnya yang akan diambil oleh Israel, Lebanon, serta pihak-pihak yang terlibat dalam mediasi. Keberhasilan atau kegagalan perjanjian ini dapat menjadi indikator penting bagi stabilitas keamanan di Timur Tengah selama beberapa bulan ke depan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *