Media Pendidikan – 14 April 2026 | Paus Fransiskus mengkritik keras kekuatan yang ia sebut sebagai “neokolonial” pada kunjungan resmi ke Aljazair, Senin lalu. Dalam pernyataan yang menyinggung pelanggaran hukum internasional, Paus menegaskan bahwa tindakan semacam itu tidak dapat ditoleransi, sambil menanggapi kritik terbaru yang dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap kebijakan Vatikan.
Kunjungan Paus ke Aljazair merupakan bagian dari rangkaian perjalanan pastoral yang bertujuan memperkuat dialog antar‑umat beragama dan menyoroti isu‑isu keadilan global. Selama pertemuan dengan pemimpin agama lokal dan pejabat pemerintah, Paus menyoroti dampak negatif kebijakan luar negeri yang mengedepankan dominasi ekonomi dan militer atas negara‑negara berkembang. Ia menuduh beberapa negara kuat mengadopsi pola “neokolonial” yang melanggar prinsip kedaulatan dan hukum internasional.
“Kami menolak segala bentuk neokolonialisme yang melanggar hukum internasional,” kata Paus Fransiskus dalam sambutan singkatnya. “Setiap upaya mengintervensi kedaulatan suatu bangsa demi kepentingan sempit harus ditolak oleh umat manusia yang beradab.”
Pernyataan ini muncul bersamaan dengan komentar Trump yang beberapa hari sebelumnya mengecam keputusan Paus terkait isu‑isu migrasi dan perlindungan lingkungan. Trump menuduh Vatikan terlalu campur tangan dalam urusan politik luar negeri Amerika Serikat, memperparah ketegangan antara dua institusi yang secara tradisional memiliki hubungan diplomatik yang kompleks.
Paus menekankan bahwa ajaran Gereja Katolik selalu berpihak pada perdamaian, keadilan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Ia menambahkan bahwa neokolonialisme tidak hanya menindas secara politik, tetapi juga menimbulkan kerusakan ekonomi dan sosial yang mendalam bagi negara‑negara yang menjadi target. Menurut data resmi Aljazair, sekitar 30 persen penduduknya masih hidup di bawah garis kemiskinan, sebuah angka yang diproyeksikan akan meningkat jika tekanan eksternal tidak diatasi.
Dalam konteks geopolitik, pernyataan Paus dapat dilihat sebagai panggilan moral bagi komunitas internasional untuk menegakkan kembali prinsip kedaulatan negara. Ia mengajak semua pihak, termasuk Amerika Serikat, untuk menghormati perjanjian internasional yang telah disepakati bersama, seperti Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang menegaskan larangan penggunaan kekerasan atau ancaman untuk mencapai tujuan politik.
Para pengamat menilai bahwa kritik Paus terhadap neokolonialisme sekaligus menanggapi serangan Trump menandai titik balik dalam hubungan antara Vatikan dan Washington. Seorang analis hubungan internasional menyebut, “Paus Fransiskus tidak sekadar mengkritik kebijakan tertentu; ia menegaskan kembali komitmen moral Gereja terhadap tatanan dunia yang adil dan berlandaskan hukum internasional.”
Menutup kunjungan, Paus Fransiskus mengajak seluruh umat untuk berdoa demi terciptanya dunia yang bebas dari dominasi neokolonial, serta menekankan pentingnya dialog konstruktif antara negara‑negara besar dan negara‑negara berkembang. Ia menegaskan harapannya agar langkah-langkah konkret diambil untuk mengurangi ketimpangan kekuasaan dan memastikan keadilan bagi semua bangsa.


Komentar