Media Pendidikan – 12 April 2026 | Surabaya, 12 April 2026 – Pertamina Patra Niaga mengumumkan langkah strategis untuk memperkuat inovasi bahan bakar nabati FAME serta memanfaatkan tanaman eceng gondok sebagai sumber energi terbarukan. Program yang diluncurkan di wilayah Surabaya ini bertujuan meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat keselamatan kerja, dan menurunkan dampak lingkungan.
Fokus pada FAME dan Eceng Gondok
FAME (Fatty Acid Methyl Ester) dipilih sebagai komponen utama dalam upaya diversifikasi energi, sementara eceng gondok, tanaman air yang melimpah di sekitar kota, dijadikan bahan baku potensial. Kombinasi keduanya diharapkan menciptakan rantai nilai yang lebih berkelanjutan, sekaligus mengurangi beban lingkungan akibat penumpukan tanaman invasif.
“Transformasi ini meningkatkan efisiensi dan keselamatan operasional sekaligus memperkuat upaya pengurangan dampak lingkungan,” ujar juru bicara Pertamina Patra Niaga dalam konferensi pers. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa integrasi teknologi baru sudah mulai menunjukkan hasil positif.
Implementasi program mencakup tiga fase utama: (1) pengumpulan eceng gondok dari area rawan banjir, (2) proses konversi menjadi feedstock biodiesel melalui teknologi transesterifikasi, dan (3) distribusi FAME ke stasiun pengisian bahan bakar milik Pertamina di Surabaya. Setiap fase dijalankan dengan standar operasional yang ketat untuk meminimalkan risiko kecelakaan dan memastikan kualitas produk akhir.
Data internal menunjukkan peningkatan produktivitas sebesar 15% dibandingkan proses konvensional, serta penurunan emisi CO₂ hingga 10% pada tahap distribusi. Meskipun angka tersebut belum dipublikasikan secara luas, mereka mencerminkan dampak positif yang diharapkan dari sinergi antara inovasi bahan bakar dan pengelolaan limbah tanaman air.
Manfaat lingkungan menjadi sorotan utama. Dengan memanfaatkan eceng gondok, perusahaan tidak hanya mengurangi beban ekosistem perairan tetapi juga menghasilkan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Hal ini selaras dengan kebijakan nasional untuk meningkatkan porsi energi terbarukan dalam bauran energi Indonesia.
Keberhasilan program ini di Surabaya dijadikan contoh untuk replikasi di kota-kota lain yang memiliki permasalahan serupa. Tim manajemen Pertamina Patra Niaga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, melibatkan pemerintah daerah, institusi riset, dan masyarakat lokal dalam setiap tahapan proyek.
Ke depannya, perusahaan berencana memperluas kapasitas produksi FAME dan mengoptimalkan proses ekstraksi energi dari eceng gondok. Penambahan fasilitas pengolahan di lokasi strategis diharapkan dapat menurunkan biaya logistik serta mempercepat distribusi bahan bakar ramah lingkungan ke konsumen.
Dengan hasil awal yang menunjukkan peningkatan efisiensi, keselamatan, dan pengurangan dampak lingkungan, program inovasi ini menegaskan komitmen Pertamina Patra Niaga dalam mendukung transisi energi bersih di Indonesia.


Komentar