Media Pendidikan – 12 April 2026 | Surabaya – Pada Wisuda ke-261 Universitas Airlangga (Unair) yang dilangsungkan baru-baru ini, Dr. Helena Octavianne, seorang jaksa, dinobatkan sebagai wisudawan terbaik. Penghargaan tersebut menandai pencapaian luar biasa, yaitu lulus dengan predikat summa cum laude dan menjadi perempuan pertama yang memperoleh gelar doktor di Program Studi Doktor Manajemen (PSDM) Unair.
Helena Octavianne menempuh pendidikan doktoral di PSDM Unair setelah menyelesaikan studi S2 di bidang hukum. Selama masa studi, ia berhasil mempertahankan indeks prestasi yang konsisten berada di atas nilai A, serta menghasilkan disertasi yang mengkaji reformasi peradilan pidana di Indonesia. Keberhasilan tersebut tidak hanya mengukuhkan kompetensinya di bidang hukum, tetapi juga menembus batas tradisional gender dalam dunia akademik.
“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada dosen pembimbing serta keluarga yang selalu mendukung,” ujar Dr. Helena dalam pidatonya saat menerima penghargaan. “Penghargaan ini adalah bukti bahwa dedikasi dan kerja keras dapat membuka peluang baru bagi perempuan di bidang akademik dan profesi hukum.”
Upacara wisuda tersebut dihadiri lebih dari 5.000 mahasiswa, dosen, serta pejabat kampus. Di antara mereka, Rektor Unair, Prof. Dr. Ir. H. Suyono, M.Sc., menekankan pentingnya keberagaman gender dalam penelitian tinggi. Ia menambahkan, “Prestasi Dr. Helena menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya perempuan, untuk mengejar pendidikan tertinggi tanpa rasa ragu.”
Data resmi Universitas Airlangga menunjukkan bahwa pada tahun akademik 2024/2025, jumlah mahasiswa doktoral perempuan mencapai 38 persen, meningkat dibandingkan 32 persen pada periode sebelumnya. Namun, hingga saat ini, belum ada perempuan yang berhasil menyelesaikan program PSDM dengan predikat tertinggi, menjadikan pencapaian Helena sebagai terobosan historis.
Keberhasilan ini juga diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara institusi peradilan dan dunia akademik. Sebagai seorang jaksa, Dr. Helena berencana mengintegrasikan temuan disertasinya ke dalam praktik penegakan hukum, khususnya dalam meningkatkan transparansi proses peradilan. Langkah ini sejalan dengan agenda reformasi peradilan yang tengah digulirkan pemerintah.
Dengan prestasi summa cum laude dan status sebagai doktor perempuan pertama PSDM Unair, Dr. Helena Octavianne tidak hanya menorehkan catatan pribadi, tetapi juga membuka jalan bagi lebih banyak perempuan untuk menembus jenjang pendidikan tertinggi di bidang manajemen dan hukum. Perkembangan selanjutnya akan diikuti secara seksama, mengingat potensinya untuk menginspirasi kebijakan dan praktik di sektor peradilan nasional.


Komentar