Media Pendidikan – 20 April 2026 | Seorang remaja berusia 17 tahun bersama temannya terperosok ke laut saat berselancar di Pantai Parangtritis, Yogyakarta, pada Senin pagi. Kedua pemuda itu tidak mematuhi prosedur standar operasional (SOP) yang biasanya diterapkan bagi para peselancar, sehingga terjebak di zona arus kuat yang dikenal sebagai rip current.
“Kami belum pernah menganggap arus di sini begitu kuat, padahal area ini memang terkenal dengan rip current,” ujar seorang saksi yang membantu mengevakuasi temannya yang selamat. Saksi tersebut bersama beberapa relawan segera meluncur ke laut dengan perahu kecil untuk mencarikan remaja yang hilang, namun upaya penyelamatan belum menghasilkan penemuan.
Pihak kepolisian setempat serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah melakukan pencarian intensif menggunakan perahu motor dan drone. Mereka menegaskan pentingnya penerapan SOP, termasuk penggunaan pelampung keselamatan, penandaan zona bahaya, serta pendampingan oleh instruktur bersertifikat bagi pemula. “Kami mengimbau semua pengunjung pantai, khususnya yang ingin berselancar, untuk tidak mengabaikan prosedur keselamatan,” kata Komandan Tim SAR Pantai Parangtritis.
Parangtritis memang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata pantai yang ramai, namun sekaligus memiliki titik-titik rawan arus balik yang dapat menjerumuskan siapa saja yang tidak waspada. Data dari Pengelola Pantai menunjukkan bahwa setiap tahun terdapat beberapa insiden serupa, meski jumlah pastinya tidak dipublikasikan. Kejadian ini menambah catatan panjang mengenai bahaya rip current di wilayah pesisir selatan Jawa.
Pencarian masih berlangsung dan keluarga korban berharap ada kabar baik. Sementara itu, otoritas pantai menegaskan bahwa SOP tidak hanya sekadar formalitas, melainkan langkah krusial untuk mengurangi risiko kehilangan jiwa. Mereka menambahkan bahwa edukasi tentang rip current akan diperkuat melalui penyuluhan rutin kepada pengunjung dan komunitas selancar setempat.


Komentar