Hiburan
Beranda » Berita » Himpunan Mahasiswa Tambang ITB Minta Maaf atas Lagu Erika yang Dinilai Vulgar

Himpunan Mahasiswa Tambang ITB Minta Maaf atas Lagu Erika yang Dinilai Vulgar

Himpunan Mahasiswa Tambang ITB Minta Maaf atas Lagu Erika yang Dinilai Vulgar
Himpunan Mahasiswa Tambang ITB Minta Maaf atas Lagu Erika yang Dinilai Vulgar

Media Pendidikan – 16 April 2026 | JAKARTA, 15 April 2026Himpunan Mahasiswa (HIMAS) Fakultas Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB) menyampaikan permintaan maaf resmi terkait lagu berjudul “Erika” yang sempat dibawakan dalam sebuah acara internal pada akhir tahun lalu. Dalam pernyataan tertulis yang dirilis pada Senin (15/04), HIMAS menegaskan bahwa lirik lagu tersebut mengandung unsur pelecehan seksual dan tidak mencerminkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh institusi maupun mahasiswanya.

Permintaan maaf ini muncul setelah sejumlah pihak, termasuk alumni dan civitas akademika, mengkritik publikasi video penampilan lagu “Erika” yang beredar di media sosial. Kritik menyebutkan bahwa penggunaan kata-kata bernuansa seksual dan tindakan yang ditampilkan dalam video dapat menimbulkan persepsi negatif serta menyinggung korban kekerasan seksual. Sebagai respons, pengurus HIMAS mengadakan rapat mendadak pada 12 April 2026, lalu memutuskan untuk mengeluarkan pernyataan tertulis yang menegaskan keseriusan mereka dalam menanggapi masalah tersebut.

Baca juga:

“Kami meminta maaf atas konten yang tidak pantas dan tidak sejalan dengan prinsip kesetaraan serta rasa hormat yang menjadi landasan kegiatan organisasi kami,” ujar Ketua Pengurus HIMAS, Ahmad Fauzi, dalam pernyataan tersebut. “Kami menyadari bahwa lagu ‘Erika’ mengandung unsur pelecehan seksual, dan kami berkomitmen untuk tidak mengulangi hal serupa di masa mendatang,” tambahnya.

Dalam pernyataan yang sama, HIMAS menyebutkan bahwa video penampilan lagu tersebut telah dihapus dari semua platform resmi milik organisasi, termasuk akun media sosial dan kanal YouTube. Selain itu, mereka berjanji untuk menyelenggarakan sosialisasi tentang etika berkomunikasi dan sensitivitas gender bagi seluruh anggota aktif HIMAS, dengan harapan dapat menumbuhkan budaya yang lebih inklusif di lingkungan kampus.

Baca juga:

Reaksi dari pihak rektorat ITB pun datang dalam bentuk pernyataan singkat yang menegaskan pentingnya menjaga standar moral dan profesionalisme di setiap kegiatan mahasiswa. Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. R. Agus Santoso, menambahkan, “Kita harus memastikan bahwa setiap aksi mahasiswa mencerminkan nilai-nilai yang kami tanamkan di lingkungan akademik. Kami mengapresiasi langkah HIMAS yang proaktif dalam menanggapi isu ini dan berharap menjadi contoh bagi organisasi mahasiswa lainnya.”

Kasus ini menambah daftar insiden serupa yang melibatkan organisasi mahasiswa di beberapa universitas Indonesia, di mana konten bernuansa vulgar atau diskriminatif menjadi bahan perdebatan publik. Menurut survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Nasional pada 2025, 62% responden menganggap penting bagi lembaga pendidikan tinggi untuk menegakkan kebijakan anti-pelecehan seksual secara tegas.

Baca juga:

Ke depan, HIMAS berencana mengadakan workshop kolaboratif bersama Pusat Kajian Gender ITB serta Lembaga Advokasi Hak Asasi Manusia (LAHAM) kampus untuk memperdalam pemahaman anggota mengenai batasan dalam ekspresi kreatif. Diharapkan, langkah-langkah tersebut tidak hanya menjadi tindakan korektif, tetapi juga menjadi fondasi bagi budaya kampus yang lebih aman dan hormat.

Dengan permintaan maaf yang disampaikan secara terbuka serta langkah-langkah perbaikan yang dijanjikan, HIMAS berupaya memulihkan kepercayaan publik dan memastikan bahwa insiden serupa tidak terulang kembali. Perkembangan selanjutnya akan terus dipantau oleh pihak universitas dan media, mengingat sensitivitas isu gender dan kebebasan berekspresi dalam lingkungan akademik.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *