Pendidikan
Beranda » Berita » Di Balik Harga Obat Kanker yang Selangit, Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?

Di Balik Harga Obat Kanker yang Selangit, Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?

Di Balik Harga Obat Kanker yang Selangit, Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?
Di Balik Harga Obat Kanker yang Selangit, Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?

Media Pendidikan – 24 Mei 2026 | Harga obat kanker di Indonesia bukan sekadar mahal, ia bisa terasa seperti hukuman kedua bagi pasien yang sudah divonis penyakit berat. Seorang pasien kanker hati atau ginjal bisa membutuhkan hingga Rp50 juta hanya untuk menebus obat sorafenib dalam satu bulan di luar biaya kemoterapi yang bisa mencapai Rp2–6 juta per sesi.

Mengembangkan satu obat kanker baru bukan pekerjaan semalam. Industri farmasi memiliki karakteristik unik biaya penelitian sangat tinggi, waktu pengembangan sangat panjang, dan tingkat kegagalan sangat besar. Pengembangan satu obat baru bisa memakan waktu bertahun-tahun, melibatkan uji praklinis, uji klinis multifase, serta proses registrasi dan pengawasan pascapemasaran.

Baca juga:

Hak paten memberikan perusahaan farmasi monopoli atas produksi dan penjualan obat selama periode tertentu. Monopoli ini dapat menyebabkan harga obat lebih tinggi dari yang seharusnya jika tidak ada perlindungan paten. Perusahaan farmasi biasanya memegang hak paten untuk obat baru selama 20 tahun. Selama masa ini, mereka bisa menjual obat dengan harga tinggi karena tidak ada pesaing.

Baca juga:

Bukti nyata bahwa harga bisa ditekan drastis jika ada kemauan politik. Thailand pernah membuktikan bahwa harga bisa ditekan drastis jika ada kemauan politik. Pada 2008, Thailand menerbitkan lisensi yang mengabaikan paten untuk beberapa jenis obat kanker. Hasilnya, harga docetaxel dan letrozol turun 24 kali lipat dari harga normal. India bahkan lebih agresif dengan mengabaikan paten atas sorafenib, harga obat kanker itu turun dari hampir Rp 50 juta menjadi hanya sekitar Rp 1,7 juta.

Baca juga:

Keytruda, obat kanker buatan Merck, mencatatkan penjualan tertinggi di dunia dengan nilai mencapai 29,5 miliar dolar AS hanya pada tahun 2024. Angka itu bukan cerminan biaya produksi ia adalah cerminan dari kekuatan pasar yang tidak terbendung. Harga obat di tingkat pasien tidak hanya ditentukan oleh harga pabrik. Ada rantai pasok panjang yang mencakup distributor, pedagang besar farmasi, apotek, hingga fasilitas kesehatan masing-masing menambahkan margin keuntungan mereka sendiri.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *