Media Pendidikan – 08 April 2026 | QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) kini telah melampaui batas negara asalnya. Sistem pembayaran berbasis kode QR yang dikembangkan oleh Bank Indonesia ini semakin dikenal di kawasan Asia, bahkan menembus pasar Jepang. Berikut ulasan lengkap mengenai lima negara yang telah resmi mengintegrasikan QRIS ke dalam ekosistem pembayaran mereka, lengkap dengan konteks adopsi dan manfaat bagi pelaku usaha serta konsumen.
Penggunaan QRIS menawarkan keunggulan berupa standar tunggal, sehingga pedagang tidak perlu lagi menyiapkan beragam QR dari masing-masing penyedia layanan pembayaran. Dengan satu kode QR, konsumen dapat membayar menggunakan aplikasi e‑wallet yang berbeda, mempercepat transaksi, dan mengurangi biaya operasional. Keberhasilan QRIS di Indonesia mendorong negara‑negara tetangga untuk mengadopsinya sebagai bagian dari strategi digitalisasi keuangan.
- Thailand – Thailand menjadi negara pertama di luar Indonesia yang secara resmi mengakui QRIS. Pemerintah Thailand melalui Bank of Thailand menandatangani kesepakatan kerja sama pada awal 2023, memungkinkan pedagang di zona wisata utama seperti Bangkok dan Phuket menampilkan QRIS di kasir mereka. Integrasi ini membantu wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Thailand untuk bertransaksi dengan mudah, tanpa harus menukar uang tunai atau mengunduh aplikasi lokal.
- Singapura – Pada pertengahan 2023, Monetary Authority of Singapore (MAS) menyetujui penggunaan QRIS dalam jaringan pembayaran digitalnya. Singapura, yang dikenal sebagai hub fintech regional, mengintegrasikan QRIS ke dalam platform e‑wallet populer seperti GrabPay dan Singtel Dash. Hal ini tidak hanya memperluas pilihan pembayaran bagi wisatawan, tetapi juga membuka peluang bagi perusahaan fintech Indonesia untuk berkolaborasi dalam pengembangan layanan lintas batas.
- Malaysia – Bank Negara Malaysia mengumumkan adopsi QRIS pada akhir 2023, sejalan dengan program Digital Economy Blueprint. QRIS kini dapat dipakai di gerai-gerai ritel, restoran, dan transportasi umum di Kuala Lumpur serta kota‑kota utama lainnya. Kolaborasi antara otoritas moneter Indonesia dan Malaysia memastikan kompatibilitas standar keamanan, sehingga transaksi lintas negara menjadi lebih aman dan cepat.
- Kamboja – Meskipun masih dalam tahap pilot, Kamboja mulai menguji QRIS di sektor pariwisata sejak awal 2024. Pemerintah Kamboja bekerja sama dengan beberapa bank lokal dan penyedia e‑wallet untuk menyebarkan QRIS di atraksi wisata seperti Angkor Wat. Uji coba ini diharapkan menjadi model bagi negara‑negara ASEAN lain yang ingin memperluas jaringan pembayaran digital tanpa mengorbankan interoperabilitas.
- Jepang – Jepang menandatangani MoU dengan Bank Indonesia pada pertengahan 2024, menandai langkah penting QRIS masuk ke pasar Asia Timur. Meskipun belum menjadi standar nasional, QRIS telah diimplementasikan di sejumlah toko suvenir dan restoran di kota Tokyo dan Osaka yang melayani turis Indonesia. Keberadaan QRIS di Jepang menunjukkan potensi ekspansi lebih luas ke wilayah dengan tingkat adopsi fintech tinggi.
Berikut rangkuman data adopsi QRIS di lima negara tersebut:
| Negara | Tahun Adopsi | Bidang Utama | Catatan Khusus |
|---|---|---|---|
| Thailand | 2023 | Pariwisata & Ritel | Integrasi pada e‑wallet lokal |
| Singapura | 2023 | Fintech & Transportasi | Dukungan regulator MAS |
| Malaysia | 2023 | Ritel & Transportasi Umum | Sinkronisasi keamanan data |
| Kamboja | 2024 (pilot) | Pariwisata | Uji coba di situs heritage |
| Jepang | 2024 (pilot) | Ritel & Kuliner | Fokus pada turis Indonesia |
Keberhasilan QRIS di luar negeri tidak lepas dari dukungan regulasi yang jelas serta kolaborasi lintas institusi. Standar QRIS dirancang untuk bersifat terbuka, memungkinkan integrasi dengan sistem pembayaran yang sudah ada tanpa mengganggu infrastruktur yang ada. Hal ini memudahkan otoritas moneter masing‑masing negara untuk menyesuaikan aturan keamanan dan perlindungan data konsumen sesuai regulasi lokal.
Selain manfaat bagi pelaku usaha, konsumen juga merasakan kemudahan yang signifikan. Dengan satu kode QR, mereka dapat memilih aplikasi e‑wallet favorit tanpa harus menukar mata uang atau mencari mesin ATM. Di era pasca‑pandemi, kebiasaan pembayaran tanpa kontak semakin menguat, menjadikan QRIS sebagai solusi yang relevan dalam mendukung kebijakan kesehatan publik.
Pengembangan QRIS ke pasar internasional juga membuka peluang bagi perusahaan fintech Indonesia untuk memperluas jaringan bisnis. Banyak startup pembayaran kini menyiapkan modul API yang kompatibel dengan standar QRIS, memungkinkan integrasi cepat ke platform e‑wallet di negara mitra. Ini berpotensi meningkatkan volume transaksi lintas batas dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pionir inovasi pembayaran di kawasan Asia‑Pasifik.
Secara keseluruhan, lima negara yang telah mengadopsi QRIS menunjukkan tren positif dalam harmonisasi standar pembayaran digital di wilayah Asia. Keberhasilan ini tidak hanya mempermudah transaksi bagi wisatawan, tetapi juga memperkuat ekosistem fintech regional, menciptakan peluang pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan terhubung.
Dengan terus memperluas jaringan QRIS, diharapkan lebih banyak negara akan bergabung, menjadikan kode QR sebagai bahasa universal dalam transaksi digital di masa depan.


Komentar