Media Pendidikan – 03 Juli 2026 | Bayangkan seorang anak kelas empat SD mengangkat tangan di tengah pelajaran IPS. Gurunya baru selesai menjelaskan bahwa penjajahan Belanda berlangsung 350 tahun. Si anak bertanya, “Bu, tapi katanya ada yang bilang itu tidak tepat?” Ia tidak salah. Klaim “350 tahun” memang sudah lama diperdebatkan sejarawan.
Tapi yang terjadi di kelas bukan diskusi. Guru itu diam sebentar, lalu berkata, “Itu yang ada di buku. Nanti keluar di ujian.” Beberapa teman sekelas menoleh ke si anak dengan ekspresi yang susah didefinisikan, bukan kagum, bukan juga benci. Lebih ke: kenapa kamu mempersulit diri sendiri?
Anak itu tidak bertanya lagi sampai akhir semester. Tidak ada yang mengajarinya untuk berhenti. Tidak ada hukuman tertulis. Tidak ada larangan di tata tertib sekolah. Tapi pelajaran itu terserap sempurna: bertanya terlalu jauh itu tidak aman.
Philip Jackson adalah orang pertama yang memberi nama pada fenomena ini. Dalam bukunya Life in Classrooms (1968), ia mengamati sesuatu yang sebetulnya sudah semua orang rasakan tapi tidak ada yang sebut: sekolah mengajarkan dua hal secara bersamaan.
Yang pertama adalah kurikulum resmi: matematika, bahasa, sains, sejarah. Yang kedua adalah sesuatu yang jauh lebih ambigu: cara bersikap, cara menunggu giliran, cara merespons otoritas, cara membaca situasi sosial tanpa ada yang menjelaskan aturannya secara eksplisit.
Di Indonesia, “cara” itu punya cita rasa tersendiri. Sebelum pelajaran pertama dimulai, sudah ada tata letak yang bicara: guru di depan, murid di barisan rapi menghadap ke satu arah. Sudah ada ritual yang harus dijalani: berdiri, memberi salam, duduk atas izin.
Pierre Bourdieu bilang setiap orang masuk ke dunia sosial dengan membawa “modal” tertentu. Bukan uang atau bukan hanya uang. Ada modal budaya: cara bicara, selera, pengetahuan tentang “bagaimana hal-hal dilakukan” di lingkungan tertentu.
Anak yang tumbuh di keluarga di mana meja makan adalah tempat berdebat soal berita, di mana pertanyaan disambut bukan dipadamkan, di mana buku ada di mana-mana, anak itu masuk kelas dengan modal budaya yang sudah selaras dengan apa yang sekolah anggap “siswa yang baik.” Ia tahu cara ngomong yang terdengar cerdas.
Samuel Bowles dan Herbert Gintis menulis Schooling in Capitalist America pada 1976 dengan argumen yang sederhana dan tidak nyaman: sekolah tidak dirancang untuk membebaskan, ia dirancang untuk mempersiapkan. Mempersiapkan apa? Tenaga kerja.
Di Indonesia, logika kapitalisme industri itu, ada sedimen budaya yang sudah lama mengendap: penghormatan pada senioritas, relasi patron-klien yang mendarah daging, dan tafsir tertentu tentang “hormat” yang sering kali berarti “tidak membantah.” Ini bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk dalam dirinya sendiri ada nilai-nilai relasional yang memang penting di sini.
Masalahnya adalah ketika nilai-nilai itu dipakai bukan untuk membangun relasi yang sehat, melainkan untuk menutup ruang kritik. “Hormati gurumu” bisa berarti banyak hal. Dalam versi terbaiknya, ia mengajarkan bahwa pengalaman orang lain layak didengarkan sebelum kamu menyimpulkan sesuatu.
Tiga ruang di mana hidden curriculum paling terasa adalah ruang kelas dan dinamika “anak emas”, upacara bendera dan latihan tunduk, serta buku teks sejarah dan satu versi kebenaran.
Yang paling berbahaya adalah yang tidak terasa. Louis Althusser punya konsep yang terdengar rumit tapi intinya cukup sederhana: Ideological State Apparatus. Negara tidak hanya menjalankan kuasa lewat polisi dan hukum lewat paksaan langsung.
Tidak ada peta jalan reformasi pendidikan di sini. Bukan karena tidak penting, tapi karena terlalu mudah dan karena hidden curriculum tidak bisa diubah hanya dengan mengganti kurikulum tertulis.
Pertanyaan yang relevan bukan “bagaimana kita mengubah sistemnya?” tapi lebih dulu: “apa yang sedang kita anggap normal sekarang yang mungkin akan kita sesali dua puluh tahun lagi?” Mungkin cara guru merespons murid yang berbeda pendapat.
Mungkin cara kita mengukur keberhasilan belajar hanya lewat angka. Mungkin keyakinan kita bahwa ketertiban di kelas adalah tanda proses belajar yang baik, padahal ketertiban dan pembelajaran tidak selalu berjalan beriringan.


Komentar