Media Pendidikan – 02 Juli 2026 | Anggota DPR RI Atalia Praratya mengkritik lagu yang dibuat oleh Bupati Purwakarta, Saepul Binzein, karena liriknya dinilai merendahkan perempuan. Lagu tersebut dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai kesetaraan gender dan dapat memicu diskriminasi terhadap perempuan.
Saepul Binzein mengklaim bahwa lagu itu merupakan cerminan dirinya dan tidak bermaksud untuk merendahkan perempuan. Namun, Atalia Praratya tidak terima dengan alasan tersebut dan menuntut Bupati Purwakarta untuk meminta maaf atas pernyataannya.
Atalia Praratya menyatakan bahwa “Lagu tersebut sangat tidak pantas dan dapat memicu diskriminasi terhadap perempuan. Sebagai Bupati, Saepul Binzein seharusnya dapat menjadi contoh yang baik bagi masyarakat, bukan malah memperburuk keadaan”.
Peristiwa ini menimbulkan reaksi dari berbagai pihak, termasuk organisasi perempuan dan aktivis hak asasi manusia. Mereka menuntut Bupati Purwakarta untuk mengambil tanggung jawab atas pernyataannya dan meminta maaf kepada masyarakat.
Perdebatan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana seharusnya seorang pemimpin memperlakukan isu-isu terkait kesetaraan gender dan hak asasi manusia. Apakah mereka harus menjadi contoh yang baik bagi masyarakat, ataukah mereka dapat memilih untuk mengabaikan isu-isu tersebut?


Komentar