Media Pendidikan – 28 Juni 2026 | Perdebatan mengenai childfree di Indonesia seringkali berhenti pada pertanyaan, apakah memilih tidak memiliki anak itu benar atau salah? Padahal, masih ada persoalan yang jauh lebih penting, yaitu mengapa masyarakat lebih sibuk mempertanyakan keputusan seseorang untuk tidak memiliki anak daripada memastikan setiap anak yang lahir benar-benar dipersiapkan kehidupannya.
Dalam budaya Indonesia, memiliki anak masih dipandang sebagai tahapan hidup yang wajar setelah menikah. Tidak sedikit pasangan yang baru menikah langsung mendapat pertanyaan, kapan punya anak? Pertanyaan itu terdengar sederhana, bahkan dianggap sebagai bentuk perhatian. Namun, secara tidak sadar, pertanyaan tersebut menunjukkan adanya norma sosial bahwa pernikahan akan terasa lengkap jika sudah memiliki anak.
Ironisnya, masyarakat hampir tidak pernah membicarakan hal yang jauh lebih penting, yakni kesiapan pasangan untuk menjadi orang tua. Kesiapan emosional, kestabilan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan anak hingga pendidikannya, serta kemampuan membangun lingkungan pengasuhan yang sehat sering kali luput dari perhatian.
Seolah-olah, yang paling penting adalah anak lahir terlebih dahulu. Soal bagaimana anak dibesarkan menjadi persoalan berikutnya. Fenomena childfree sering dilihat sebagai bentuk individualisme atau penolakan terhadap nilai keluarga. Padahal, bagi sebagian orang keputusan tersebut justru lahir dari kesadaran bahwa menjadi orang tua bukanlah tanggung jawab yang sederhana.
Artinya, childfree bukan hanya persoalan tidak ingin punya anak. Dalam banyak kasus, fenomena ini juga menunjukkan meningkatnya kesadaran bahwa memiliki anak berarti menerima tanggung jawab jangka panjang terhadap kehidupan manusia lain.
Paradoksnya, masyarakat cenderung memberikan penilaian kepada pasangan yang memilih childfree, tetapi tidak menunjukkan perhatian yang sama terhadap kualitas pengasuhan dalam keluarga. Padahal, berbagai persoalan seperti kekerasan terhadap anak, pengabaian, pola asuh yang tidak sehat, hingga tekanan akademik yang berlebihan menunjukkan bahwa masih banyak anak yang belum memperoleh lingkungan tumbuh yang ideal.
Dengan demikian, yang seharusnya menjadi perhatian bukan sekadar lahirnya seorang anak, melainkan sejauh mana kehidupan anak tersebut telah dipersiapkan bahkan jauh sebelum ia dilahirkan. Sebab, kualitas sebuah keluarga tidak diukur dari hadirnya anak semata, tetapi dari kemampuannya untuk menyediakan lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung tumbuh kembang anak.


Komentar