Media Pendidikan – 24 Juni 2026 | Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menegaskan bahwa Israel harus meninggalkan seluruh wilayah Lebanon tanpa mempertahankan satu bagian pun. Hal ini disampaikan dalam pidato televisi, di mana Qassem menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari Lebanon selatan sesuai jadwal yang telah disepakati.
Saat ini, telah berlaku gencatan senjata, namun Qassem menilai penarikan pasukan Israel harus dilakukan berdasarkan kesepakatan waktu yang jelas. Ia juga mengatakan bahwa tentara Lebanon seharusnya ditempatkan secara eksklusif di selatan Sungai Litani, 30 kilometer dari perbatasan Israel.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menolak keberadaan pasukan Israel di wilayah selatan Lebanon. Ia juga menolak campur tangan asing dalam urusan dalam negeri negaranya. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah berlangsungnya putaran kelima pembicaraan Israel-Lebanon di Washington, yang juga menyinggung isu kedaulatan Lebanon.
Mediator Pakistan dan Qatar melaporkan bahwa Teheran dan Washington telah menyepakati pembentukan “de-confliction cell” untuk meredam eskalasi konflik di Lebanon. Kesepakatan tersebut dicapai setelah pertemuan di Swiss yang membahas upaya penghentian perang yang lebih luas di Timur Tengah.
Israel, di sisi lain, menyatakan tetap melanjutkan operasi militernya di Lebanon. Pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) melaporkan tidak ada aktivitas militer signifikan sejak Minggu, 21 Juni 2026. Konflik yang terus berlangsung sejak awal perang telah menewaskan lebih dari 4.100 orang di Lebanon, menurut data resmi.


Komentar