Media Pendidikan – 15 Juni 2026 | Tidak semua korban mampu berteriak atau melawan saat mereka diperkosa. Sebagian penyintas mengaku mengalami kelumpuhan sementara. Menurut beberapa ahli, hal ini disebabkan oleh ketakutan dan kecemasan yang sangat besar. Ketika seseorang mengalami kejadian traumatis seperti perkosaan, otaknya dapat mengalami kejutan yang sangat kuat, sehingga membuatnya tidak dapat bereaksi secara normal.
Hal ini disebut dengan ‘reaksi kejutan‘ atau ‘reaksi kecemasan’. Pada saat itu, korban tidak dapat memproses informasi yang masuk ke otaknya dengan normal, sehingga membuatnya tidak dapat bereaksi dengan baik. Selain itu, korban juga dapat mengalami gejala-gejala fisik seperti pelan tidur, sulit bernapas, dan bahkan kehilangan kesadaran.
Para ahli juga menemukan bahwa korban perkosaan yang mengalami kelumpuhan sementara cenderung memiliki ciri-ciri tertentu, seperti memiliki latar belakang trauma sebelumnya, memiliki mental yang lemah, dan memiliki kecenderungan untuk mencari perhatian dari orang lain. Namun, perlu diingat bahwa setiap korban perkosaan memiliki latar belakang dan ciri-ciri yang unik.
Untuk itu, penting bagi korban perkosaan untuk mencari bantuan dari ahli atau organisasi yang dapat membantu mereka untuk mengatasi trauma yang mereka alami. Selain itu, masyarakat juga perlu meningkatkan kesadaran tentang pentingnya mendukung korban perkosaan dan menghentikan kejahatan perkosaan.


Komentar