Media Pendidikan – 09 Juni 2026 | Sri Lanka menjadi markas baru penipuan online di Asia, setelah upaya pemberantasan jaringan penipuan online di Kamboja belum menghentikan industri kejahatan tersebut.
Para pelaku penipuan kini mulai merelokasi operasi mereka ke Sri Lanka, yang menawarkan bebas visa bagi beberapa negara, ketersediaan gedung dan apartemen yang bisa disewa dengan mudah, jaringan telekomunikasi yang cukup baik, serta sistem transfer uang informal yang telah lama berkembang.
Aparat Sri Lanka telah membentuk unit khusus kejahatan siber dan mengungkap telah menangkap lebih dari 1.000 orang sepanjang tahun ini.
“Polisi bersama departemen imigrasi dan bank sentral bekerja secara kolektif untuk memastikan masalah ini bisa dikendalikan,” kata Asisten Inspektur Polisi Sri Lanka Fredrick Wootler.
“Fenomena ini terjadi dengan cara yang semakin sulit untuk dipantau. Saya rasa para pelaku kini sudah menjadi sangat terampil, terlepas dari apakah mereka menginginkannya atau tidak, sehingga mereka dapat beroperasi di lingkungan apa pun,” kata pendiri organisasi anti-penipuan Operation Shamrock, Erin West.
Sri Lanka dinilai belum memiliki kerangka hukum yang memadai untuk menangani penipuan siber, sehingga keberhasilan negara ini mencegah jaringan penipuan mengakar akan sangat bergantung pada keseriusan para pejabat negara.


Komentar