Media Pendidikan – 21 Mei 2026 | Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 5,25 persen dinilai sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan meredam risiko inflasi impor di tengah meningkatnya tekanan global.
David juga menilai langkah BI berpotensi memberikan sentimen positif terhadap pasar, terutama terhadap pergerakan rupiah yang belakangan tertekan akibat meningkatnya ketidakpastian global. "Dampaknya akan memberikan sentimen positif," ujarnya.
Meski demikian, David mengingatkan penguatan rupiah tidak bisa semata-mata ditopang oleh kebijakan suku bunga. Menurut dia, terdapat sejumlah persoalan mendasar yang juga perlu diselesaikan agar tekanan terhadap mata uang domestik dapat lebih berkelanjutan. "Iya positif bagi rupiah tapi isu-isu lain terkait masalah struktural juga harus dibereskan," katanya.
Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang menilai langkah BI menaikkan suku bunga lebih tinggi dari ekspektasi pasar menunjukkan fokus bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Menurut analisis Danamon, langkah tersebut juga menjadi upaya BI untuk tetap selangkah lebih maju menghadapi risiko ekonomi global.
Bank Danamon menilai depresiasi rupiah terhadap dolar AS yang telah mencapai 5,7 persen secara year-to-date berpotensi memicu inflasi impor. Pelemahan rupiah berlebihan dinilai dapat meningkatkan kemungkinan kenaikan sejumlah harga komoditas dan barang.
BI masih mempertahankan kebijakan makroprudensial yang longgar melalui tambahan insentif likuiditas serta pelonggaran aturan intermediasi untuk menjaga penyaluran kredit dan menopang pertumbuhan ekonomi domestik.


Komentar