Pendidikan
Beranda » Berita » Agar Tidak Bias Memuji Anak

Agar Tidak Bias Memuji Anak

Agar Tidak Bias Memuji Anak
Agar Tidak Bias Memuji Anak

Media Pendidikan – 19 Mei 2026 | Setiap kali mendapat nilai sempurna, seorang anak disambut dengan tepuk tangan dan seruan, "Kamu memang pintar sekali!" Namun pada hari ketika nilainya menurun sedikit, wajahnya muram dan suaranya pelan. Ia takut pulang, takut kehilangan kalimat manis yang biasa ia dapat.

Memuji anak tak perlu gegap gempita dan heboh, tapi pujian yang menyasar sifat anak-anak merupakan sesuatu yang kurang pas. Dalam jangka yang panjang, anak-anak akan mengidentifikasi nilai dirinya sebatas pada sifat yang sering disebut itu.

Baca juga:

Orang tua atau pendidik sering berpikir bahwa memuji anak adalah bentuk kasih sayang. Kita ingin anak merasa dihargai. Namun jangan lupa, tanpa kewaspadaan kita akan jatuh pada tindakan yang disebut dengan bias pujian, yaitu kecenderungan memberi pujian dengan cara yang justru salah sasaran.

Pujian yang baik tidak meninabobokan, melainkan membangunkan kesadaran. Dalam praktik sehari-hari, kita bisa mulai dengan bertanya pada diri sendiri, untuk siapa sebenarnya pujian itu? Apakah untuk anak agar ia tumbuh kuat dan berani? Atau malah untuk diri kita sendiri, agar tampak berhasil mendidik anak?

Baca juga:

Pujian seharusnya menjadi bahasa kasih, tak elok jika menjadi alat kontrol. Ia bisa menjadi jembatan antara anak dan orang tua, jika diucapkan dengan tulus dan tepat. Misalnya, ketika anak gagal dalam lomba, kita bisa berkata, "Aku bangga kamu sudah berani tampil, meskipun belum menang."

Menjadi orang tua atau pendidik berarti juga belajar menahan diri, menahan keinginan untuk selalu memberi penilaian, bahkan dalam bentuk pujian. Sebab tak selalu, anak butuh kata-kata "hebat", tapi cukup tatapan hangat yang mengatakan, "Aku tahu kamu berusaha, dan aku bangga padamu."

Baca juga:

Kesadaran penting sebagai orang tua atau guru adalah mendidik anak bukan tentang seberapa sering kita berkata manis, tapi seberapa jujur kita mengajarkan makna dari setiap simpul kehidupan. Maka, berhentilah memuji dengan cara yang salah. Pujilah dengan kesadaran, dengan cinta, dan dengan niat menumbuhkan, bukan menghanyutkan jiwa anak-anak dalam arus kesenangan yang meninabobokan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *