Sains & Teknologi
Beranda » Berita » Beda Baterai LFP dan Nikel Kendaraan Listrik, Tak Sekadar Pada Bahan Baku

Beda Baterai LFP dan Nikel Kendaraan Listrik, Tak Sekadar Pada Bahan Baku

Beda Baterai LFP dan Nikel Kendaraan Listrik, Tak Sekadar Pada Bahan Baku
Beda Baterai LFP dan Nikel Kendaraan Listrik, Tak Sekadar Pada Bahan Baku

Media Pendidikan – 11 Mei 2026 | Produksi baterai untuk mobil listrik Ferrari. Foto: Dok. Carscoops

Muncul lagi dualisme paham teknologi baterai kendaraan listrik murni jenis LFP (Lithium Ferro Phosphate) dan NMC (Nickel, Manganese, Cobalt), terkait usulan pemerintah untuk pemberian insentif berdasarkan jenis penyimpanan daya setrumnya.

Baca juga:

Pendiri EV Safe sekaligus dosen di National Battery Research Institute, Mahaendra Gofar menjelaskan perbedaan dasar dari dua teknologi baterai LFP dan NMC ada pada bahan baku pembuatan yang digunakan.

‘LFP itu bahan dasarnya besi saja, namanya ferro dan tidak ada campuran lain seperti NMC yang ada mangan, nikel, dan kobalt. Secara produksi itu 30-40 persen lebih murah,' buka Gofar dihubungi kumparan, Kamis (7/5/2026).

Perbedaan selanjutnya adalah kemampuan dalam menyimpan energi listrik. Baterai NMC memiliki kepadatan energi yang jauh lebih tinggi dibanding LFP untuk ukuran atau kapasitas yang sama, makanya jenis ini umum digunakan untuk kendaraan listrik performa tinggi.

‘Namun dalam perkembangannya, LFP lebih umum dijumpai karena dari skala produksi saat ini lebih banyak berkat produsen mobil listrik asal China yang masif. Salah satunya CATL dan BYD punya andil membuat jenis LFP begitu populer,' imbuh Gofar.

Baca juga:

Pun dengan model-model battery electric vehicle (BEV) yang saat ini beredar di Indonesia, kata Gofar mayoritas mengadopsi jenis LFP dari pabrikan China. Sementara NMC kebanyakan masih diadopsi merek Eropa, Jepang, dan Korea Selatan.

Baterai NMC dengan sifat kepadatan energi yang tinggi, dapat menyematkan lebih banyak kapasitas listrik untuk ditampung ke dalam wadah baterai berukuran kecil atau sama dengan jenis LFP sekalipun.

‘Katakanlah ada merek X punya produk listrik dengan pilihan baterai LPF dan NMC. Itu pakai baterai dengan ukuran yang sama karena dipakai di bodi yang sama juga kan, tetapi kapasitasnya biasanya akan lebih besar yang NMC,' terangnya.

Baterai Cell-to-Pack (CTP) 'Qillin 3.0' dari CATL. Foto: Dok. CATL

Baca juga:

Kemudian resistensi suhu, jenis LFP memiliki reaksi kimia atau dalam hal ini thermal runaway terhadap panas yang lebih tinggi dibanding NMC. Namun Gofar menegaskan itu tidak serta merta artinya jenis NMC lebih mudah terbakar dari LFP.

‘Kalau tidak salah, critical temperature NMC itu sekitar 160 derajat celcius, LFP sekitar 200-an derajat untuk sampai ke titik thermal runaway. Tapi bukan artinya soal mudah terbakar atau tidak, ini cuma melihat dari suhu kritis maksimalnya,' papar Gofar.

Lalu menyoal proses daur ulang, Gofar bilang dua jenis baterai tersebut sama-sama dapat dibuat siklus hidup baru yang lain.

‘Betul. Jadi masih lebih berharga baterai nikel, karena hasil daur ulangnya itu masih bernilai tinggi ketimbang hasil baterai dari LFP yang hanya dapat besi saja. Contoh kobalt itu kan bahan baku langka, makanya masih bernilai,' ucapnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *