Media Pendidikan – 06 Mei 2026 | Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali merilis data terbaru yang menunjukkan penurunan signifikan dalam penyerapan tenaga kerja di pulau ini. Akibatnya, tingkat pengangguran terbuka mengalami kenaikan, sementara pola partisipasi kerja warga, khususnya perempuan, bergeser ke arah pengelolaan rumah tangga.
Data BPS mengungkap tren menurun
Rincian angka menunjukkan bahwa pada kuartal pertama tahun ini, tingkat pengangguran terbuka mencapai 7,2 persen, naik dari 5,9 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, partisipasi angkatan kerja menurun sebesar 1,4 poin persentase, menandakan lebih sedikit penduduk usia produktif yang aktif mencari pekerjaan.
Perubahan perilaku kerja perempuan
Selain data umum tentang penyerapan tenaga kerja, BPS juga mencatat pergeseran preferensi pekerjaan di kalangan perempuan. Sebagian besar warga, terutama perempuan, lebih memilih mengurus rumah tangga daripada memasuki pasar kerja formal. Fenomena ini memperkuat kecenderungan demografis di Bali, di mana perempuan cenderung memprioritaskan peran domestik ketika peluang kerja tidak memadai.
Data spesifik menunjukkan bahwa dari total perempuan usia 15-64 tahun, sekitar 58 persen melaporkan bahwa mereka memilih untuk fokus pada urusan rumah tangga, dibandingkan dengan 42 persen yang masih aktif mencari pekerjaan. Angka ini mencerminkan dampak penurunan penyerapan tenaga kerja terhadap keputusan karier individu.
Implikasi ekonomi regional
Penurunan angkatan kerja dan peningkatan pengangguran terbuka dapat berimplikasi pada pertumbuhan ekonomi Bali secara keseluruhan. Dengan berkurangnya daya serap tenaga kerja, sektor-sektor utama seperti pariwisata dan konstruksi berpotensi mengalami tekanan lebih lanjut. Pemerintah daerah diharapkan meninjau kebijakan tenaga kerja dan program pelatihan guna meningkatkan kesiapan kerja penduduk, khususnya perempuan yang kini lebih banyak terlibat dalam kegiatan rumah tangga.
Secara keseluruhan, data BPS Bali menegaskan perlunya upaya terpadu antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga pendidikan untuk memperbaiki iklim kerja dan menurunkan angka pengangguran. Penguatan program pelatihan vokasi serta insentif bagi sektor yang mampu menyerap tenaga kerja dapat menjadi langkah strategis ke depan.


Komentar