Media Pendidikan – 28 April 2026 | Pasar lelang mobil bekas di Indonesia masih didominasi kendaraan berbahan bakar minyak (BBM) seperti LCGC dan MPV. Meskipun begitu, kehadiran mobil listrik (EV) mulai menguji dominasi para “raja‑raja lama” dengan menawarkan keunggulan efisiensi dan biaya operasional.
Segmen lelang mobil bekas menunjukkan pola permintaan yang relatif stabil. Para pembeli cenderung mempertimbangkan faktor efisiensi bahan bakar dan biaya pemeliharaan yang lebih rendah, sehingga kendaraan LCGC dan MPV terus menjadi pilihan utama. “Efisiensi dan biaya operasional jadi pertimbangan utama bagi pembeli,” ujar seorang peserta lelang yang tidak disebutkan namanya.
Dominasi BBM ini tidak lepas dari kenyataan bahwa mayoritas mobil yang masuk ke pasar sekunder masih berusia lima hingga sepuluh tahun, dengan mesin bensin atau diesel yang masih dianggap handal dan mudah di‑service. Kendaraan tersebut juga biasanya memiliki harga jual yang terjangkau, menjadikannya pilihan aman bagi konsumen yang mengutamakan nilai tukar uang.
Sementara itu, produsen dan dealer mobil listrik mulai menggencarkan upaya promosi di platform lelang. Mereka menawarkan paket bundling yang mencakup baterai berkapasitas tinggi, layanan pengisian di rumah, serta garansi lebih lama. Upaya ini bertujuan menurunkan persepsi konsumen bahwa EV masih terlalu mahal atau kurang praktis untuk penggunaan sehari‑hari.
Meski masih dalam tahap awal, data awal menunjukkan adanya peningkatan minat terhadap EV di kalangan pembeli lelang. Beberapa lot EV berhasil terjual dengan harga yang bersaing, menandakan bahwa segmen ini mulai mendapatkan tempat di pasar yang sebelumnya didominasi oleh kendaraan BBM.
Namun, tantangan infrastruktur masih menjadi penghalang. Ketersediaan stasiun pengisian listrik yang terbatas di luar kota besar membuat sebagian pembeli ragu beralih ke mobil listrik. Selain itu, biaya akuisisi awal yang relatif tinggi masih menjadi pertimbangan penting, meskipun total biaya kepemilikan (TCO) dalam jangka panjang dapat lebih menguntungkan.
Para pelaku industri menyadari bahwa perubahan pola konsumsi ini tidak dapat dihindari. Beberapa rumah lelang bahkan mulai menyiapkan ruang khusus untuk menampilkan mobil listrik, lengkap dengan informasi teknis yang memudahkan pembeli memahami kelebihan dan batasan EV.
Ke depan, diperkirakan persaingan antara kendaraan BBM tradisional dan EV akan semakin ketat. Jika dukungan pemerintah terus memperkuat kebijakan insentif, serta infrastruktur pengisian listrik terus berkembang, mobil listrik berpotensi menggeser posisi dominan para “raja‑raja lama” dalam pasar lelang mobil bekas.


Komentar