Media Pendidikan – 23 April 2026 | Surabaya, 23 April 2026 – Pemerintah Kota Surabaya meluncurkan inisiatif baru untuk menurunkan angka putus kuliah di kalangan pemuda dengan cara mengumpulkan data secara langsung di lingkungan tempat tinggal mereka. Program ini menargetkan tercapainya satu sarjana per kepala keluarga (1 KK 1 Sarjana) sebagai tolok ukur peningkatan partisipasi pendidikan tinggi.
Langkah tersebut menandai pergeseran strategi dari pendekatan birokratis ke interaksi lapangan. Tim khusus yang dibentuk oleh Dinas Pendidikan Kota Surabaya menelusuri tiap permukiman, melakukan wawancara singkat, dan mencatat profil pemuda yang sebelumnya terdaftar di perguruan tinggi namun berhenti sebelum menyelesaikan studi. Data yang terkumpul akan menjadi basis pembuatan kebijakan lanjutan, termasuk beasiswa, pendampingan akademik, dan program pelatihan keterampilan yang terintegrasi dengan perguruan tinggi lokal.
“Kami mengubah pendekatan dalam upaya meningkatkan angka partisipasi pendidikan tinggi dengan turun langsung ke permukiman warga,” ujar salah satu pejabat Dinas Pendidikan saat meninjau hasil survei awal. Pernyataan tersebut menegaskan komitmen pemerintah kota untuk tidak hanya mengandalkan statistik makro, melainkan memahami faktor-faktor mikro yang menyebabkan putus kuliah, seperti beban ekonomi keluarga, kurangnya dukungan akademik, dan jarak tempuh ke kampus.
Beberapa langkah operasional yang sudah dijalankan meliputi:
- Pengiriman tim lapangan ke lebih dari 150 RT di seluruh wilayah Surabaya selama tiga minggu pertama program.
- Pencatatan data demografis, status ekonomi, dan riwayat pendidikan pemuda yang putus kuliah.
- Penyusunan peta penyebaran pemuda putus kuliah untuk mengidentifikasi zona konsentrasi tertinggi.
Hasil sementara menunjukkan bahwa sekitar 12% pemuda berusia 18‑24 tahun di Surabaya pernah mengalami putus kuliah, dengan konsentrasi tertinggi di area permukiman padat penduduk. Dari data tersebut, pemerintah kota menyiapkan prioritas intervensi, antara lain pemberian beasiswa penuh bagi mahasiswa berprestasi yang mengalami kendala finansial, serta pendirian pusat bimbingan belajar di tingkat kelurahan.
Target 1 KK 1 Sarjana tidak hanya sekadar slogan, melainkan bagian dari agenda jangka panjang Surabaya untuk menurunkan angka putus sekolah dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pemerintah berharap bahwa dengan meningkatkan persentase lulusan sarjana per keluarga, dampak positif akan terasa pada sektor ekonomi lokal, inovasi, dan daya saing kota di tingkat nasional.
Selanjutnya, Dinas Pendidikan berencana mengintegrasikan data yang terkumpul ke dalam sistem informasi pendidikan kota, sehingga kebijakan dapat diukur efektivitasnya secara berkala. Evaluasi tahunan akan menilai pencapaian target, serta menyesuaikan program pendampingan agar tetap relevan dengan dinamika kebutuhan pemuda.
Dengan pendekatan berbasis data dan kehadiran langsung di lapangan, Pemkot Surabaya menegaskan komitmen kuatnya untuk mengatasi fenomena putus kuliah dan mewujudkan harapan setiap kepala keluarga memiliki setidaknya satu anggota keluarga yang menamatkan pendidikan tinggi.


Komentar