Sains & Teknologi
Beranda » Berita » Social Engineering: Ancaman Siber yang Sering Diremehkan dan Upaya Cyber University dalam Edukasi Keamanan

Social Engineering: Ancaman Siber yang Sering Diremehkan dan Upaya Cyber University dalam Edukasi Keamanan

Social Engineering: Ancaman Siber yang Sering Diremehkan dan Upaya Cyber University dalam Edukasi Keamanan
Social Engineering: Ancaman Siber yang Sering Diremehkan dan Upaya Cyber University dalam Edukasi Keamanan

Media Pendidikan – 20 April 2026 | Jakarta – Di era digital yang terus berkembang, ancaman siber tidak hanya datang dari virus atau peretasan tingkat tinggi. Social engineering muncul sebagai taktik yang mengandalkan manipulasi psikologis untuk menipu korban, dan kini menjadi risiko yang sering diremehkan oleh banyak organisasi maupun pengguna individu.

Social engineering memanfaatkan kepercayaan manusia, bukan sekadar celah teknis, ujar Dr. Andi Prasetyo, dosen di Cyber University. Ia menjelaskan bahwa teknik ini biasanya melibatkan panggilan telepon, email palsu, atau pesan media sosial yang dirancang menyerupai komunikasi resmi, sehingga korban cenderung mengungkapkan data sensitif tanpa curiga.

Baca juga:

Peran Cyber University dalam Edukasi Keamanan

Menanggapi ancaman yang terus berkembang, Cyber University meluncurkan serangkaian program pelatihan khusus yang menargetkan mahasiswa, profesional TI, serta masyarakat umum. Kurikulum mencakup simulasi serangan phishing, analisis pola perilaku penyerang, serta teknik mitigasi yang dapat diterapkan secara praktis di lingkungan kerja maupun pribadi.

Program “Cyber Awareness” yang digelar secara daring mencatat partisipasi lebih dari 10.000 peserta sejak awal tahun 2024. Peserta diberikan modul interaktif, kuis evaluasi, serta sesi tanya jawab langsung dengan pakar keamanan siber. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan kesadaran tentang social engineering sebesar 35% dibandingkan sebelum mengikuti pelatihan.

Selain itu, Cyber University bekerja sama dengan lembaga pemerintah dan sektor swasta untuk menyusun standar prosedur penanganan insiden social engineering. Kerjasama ini menghasilkan panduan respons cepat yang meliputi identifikasi sumber ancaman, isolasi sistem terpengaruh, dan pelaporan kepada otoritas terkait.

Baca juga:

“Edukasi berkelanjutan adalah kunci untuk menurunkan tingkat keberhasilan serangan social engineering,” tegas Dr. Andi. “Dengan memahami taktik psikologis yang dipakai penyerang, individu dapat lebih waspada dan organisasi dapat memperkuat kebijakan keamanan internal.”

Penguatan budaya keamanan siber tidak hanya bergantung pada teknologi, melainkan juga pada perilaku manusia. Oleh karena itu, Cyber University menekankan pentingnya latihan simulasi rutin, audit keamanan internal, serta pembaruan kebijakan secara periodik.

Ke depannya, institusi pendidikan tinggi di Indonesia diharapkan dapat mengintegrasikan materi keamanan siber ke dalam kurikulum umum, sehingga generasi mendatang tumbuh dengan kesadaran yang lebih kuat terhadap ancaman digital. Sementara itu, BSSN berkomitmen meningkatkan koordinasi dengan lembaga pendidikan dan industri untuk memperluas jangkauan program pencegahan.

Baca juga:

Dengan langkah-langkah kolaboratif ini, diharapkan kasus social engineering dapat ditekan secara signifikan, menjadikan ekosistem digital Indonesia lebih aman dan terpercaya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *