Ekonomi
Beranda » Berita » Forbes Sebut Rupiah Jadi Salah Satu Mata Uang Terlemah di Dunia, Ekonom Mematahkan Klaim

Forbes Sebut Rupiah Jadi Salah Satu Mata Uang Terlemah di Dunia, Ekonom Mematahkan Klaim

Forbes Sebut Rupiah Jadi Salah Satu Mata Uang Terlemah di Dunia, Ekonom Mematahkan Klaim
Forbes Sebut Rupiah Jadi Salah Satu Mata Uang Terlemah di Dunia, Ekonom Mematahkan Klaim

Media Pendidikan – 20 April 2026 | Forbes baru‑baru ini merilis daftar mata uang terlemah di dunia dan menempatkan rupiah Indonesia di antara mereka. Daftar tersebut dipublikasikan pada 20 April 2026 dan segera menuai sorotan publik serta reaksi beragam dari kalangan ekonom.

Metodologi Forbes berfokus pada nilai tukar spot terhadap dolar Amerika Serikat, tanpa mempertimbangkan faktor fundamental ekonomi seperti pertumbuhan PDB, cadangan devisa, atau kebijakan moneter. Karena itu, sejumlah analis menilai bahwa kesimpulan Forbes terlalu sempit dan tidak mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

Baca juga:

Reaksi dari Pakar Ekonomi

Ekonom senior Dr. Budi Santoso menegaskan, “Penilaian Forbes terlalu sempit dan tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang lebih kuat.” Ia menambahkan bahwa rupiah memang mengalami tekanan nilai akibat arus modal dan kebijakan global, namun faktor‑faktor struktural seperti cadangan devisa yang cukup besar, defisit fiskal yang terkendali, serta kebijakan suku bunga yang responsif memberikan dukungan pada stabilitas nilai tukar.

Beberapa ekonom lainnya menyoroti bahwa perbandingan lintas negara harus mempertimbangkan konteks politik dan sosial masing‑masing. Negara‑negara yang masuk dalam daftar terlemah biasanya menghadapi sanksi internasional, hiperinflasi, atau krisis politik yang menghambat kemampuan mereka menjaga nilai mata uang.

Di sisi lain, lembaga keuangan Indonesia, termasuk Bank Indonesia, menyatakan komitmen untuk menjaga kestabilan nilai tukar melalui intervensi pasar bila diperlukan. Mereka menekankan bahwa volatilitas jangka pendek tidak serta‑merta menandakan kelemahan struktural.

Baca juga:

Pengamatan ini penting mengingat nilai tukar rupiah berperan signifikan dalam perdagangan internasional, biaya impor, dan daya beli masyarakat. Sebagai contoh, pergerakan nilai tukar memengaruhi harga barang kebutuhan pokok yang diimpor serta biaya produksi barang yang mengandalkan bahan baku luar negeri.

Walaupun Forbes menempatkan rupiah dalam kategori mata uang terlemah, data historis menunjukkan bahwa Indonesia telah berhasil menurunkan volatilitas nilai tukar selama beberapa tahun terakhir dibandingkan dengan negara‑negara berkembang lainnya. Hal ini mencerminkan kebijakan makroekonomi yang relatif konsisten.

Sejumlah pengamat pasar valuta asing memperkirakan bahwa tekanan pada rupiah dapat berkurang bila kebijakan fiskal tetap disiplin dan investasi asing langsung terus mengalir. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa faktor eksternal seperti kebijakan moneter Amerika Serikat dan kondisi geopolitik global tetap menjadi variabel utama yang dapat memicu fluktuasi nilai tukar.

Baca juga:

Kesimpulannya, meskipun Forbes menyoroti rupiah sebagai salah satu mata uang terlemah, pandangan ini tidak sepenuhnya mewakili kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Dialog antara media, akademisi, dan pembuat kebijakan diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih seimbang bagi publik.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *