Internasional
Beranda » Berita » Jejak KAA 1955: Menelusuri Kamar Soekarno dan Nehru di Hotel Savoy Homann Bandung

Jejak KAA 1955: Menelusuri Kamar Soekarno dan Nehru di Hotel Savoy Homann Bandung

Jejak KAA 1955: Menelusuri Kamar Soekarno dan Nehru di Hotel Savoy Homann Bandung
Jejak KAA 1955: Menelusuri Kamar Soekarno dan Nehru di Hotel Savoy Homann Bandung

Media Pendidikan – 18 April 2026 | Bandung kembali menjadi sorotan sejarah ketika Hotel Savoy Homann menampilkan jejak Konferensi Asia‑Afrika (KAA) 1955, mulai dari kamar pribadi Presiden Soekarno hingga ruangan tempat Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru beristirahat. Sejumlah sudut bersejarah kini dibuka untuk publik, mengingatkan pada peran strategis kota dalam diplomasi pasca‑Perang Dunia II.

Hotel Savoy Homann berdiri pada tahun 1908 sebagai akomodasi bergengsi bagi pelancong kolonial Belanda. Terletak di Jalan Braga, bangunan berarsitektur Art‑Deco ini memiliki 250 kamar, dua lantai, dan ruang pertemuan megah seluas 500 meter persegi. Pada awal 1950‑an, hotel ini menjadi pilihan utama bagi delegasi internasional yang datang ke Bandung untuk KAA.

Baca juga:

KAA 1955 digelar pada 18‑24 April 1955 dengan partisipasi 29 negara dan lebih dari 2.500 delegasi. Konferensi tersebut menjadi tonggak penting dalam gerakan non‑blok, memperkuat posisi Indonesia sebagai mediator global. Selama seminggu, Savoy Homann menjadi “rumah kedua” bagi tokoh‑tokoh dunia, menyediakan akomodasi, ruang rapat, serta arena informal bagi diskusi lintas budaya.

Kamar Soekarno, yang terletak di lantai atas dengan pemandangan ke Taman Balai Kota, dipertahankan dengan interior bergaya klasik: tempat tidur king‑size berlapis sutra, lampu gantung kristal, serta lemari kayu jati. Menurut arsip hotel, Soekarno menghabiskan sekitar 12 jam tiap hari di kamar tersebut, mempersiapkan pidato dan meninjau agenda KAA.

Sementara itu, Nehru menginap di suite yang sama luasnya, dilengkapi ruang kerja pribadi. Dalam catatan harian yang dipajang di museum hotel, ia menuliskan, “Saya merasa rumah kedua di Bandung, suasananya hangat dan penuh semangat persahabatan”. Kutipan ini mencerminkan suasana akrab yang terbentuk antara para pemimpin pada masa konferensi.

Baca juga:

Ruang Pertemuan dan Aktivitas Tambahan

Selain kamar pribadi, Savoy Homann menyewakan Ballroom Besar yang menampung hingga 800 orang untuk sidang pleno KAA. Ruangan ini dilengkapi sistem audio‑visual paling canggih pada masanya, termasuk proyektor 35 mm dan mikrofon telegraf. Selama konferensi, lebih dari 150 sesi paralel berlangsung, mencatatkan total 1.200 jam diskusi.

Setelah KAA, hotel tetap mempertahankan sejumlah artefak: foto-foto hitam‑putih delegasi, meja rapat kayu berukir, serta koleksi buku diplomasi. Pada tahun 2023, manajemen hotel meluncurkan tur “Jejak KAA 1955” dengan tiket masuk sebesar Rp 50.000, menargetkan 10.000 pengunjung pada tahun pertama.

Upaya pelestarian ini tidak hanya menambah nilai wisata sejarah Bandung, tetapi juga mengangkat kembali peran kota dalam diplomasi multilateral. Pemerintah Daerah Bandung bersama Dinas Pariwisata berencana menambahkan jalur pejalan kaki terintegrasi antara Savoy Homann, Museum Konferensi Asia‑Afrika, dan Gedung Merdeka, memperkuat jaringan heritage trail.

Baca juga:

Dengan menelusuri kamar Soekarno, suite Nehru, serta ruang rapat megah, publik dapat menyelami kembali dinamika politik 1955 yang menorehkan jejak panjang dalam sejarah Indonesia. Savoy Homann kini berdiri sebagai saksi bisu, menghubungkan masa lalu dan masa depan melalui pintu‑pintu bersejarahnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *