Nasional
Beranda » Berita » Geger War Ticket Haji: Ketua Komisi VIII DPR Marwan Dasopang Kecam Kemenhaj Sebagai ‘Tidak Mau Kerja’

Geger War Ticket Haji: Ketua Komisi VIII DPR Marwan Dasopang Kecam Kemenhaj Sebagai ‘Tidak Mau Kerja’

Geger War Ticket Haji: Ketua Komisi VIII DPR Marwan Dasopang Kecam Kemenhaj Sebagai ‘Tidak Mau Kerja’
Geger War Ticket Haji: Ketua Komisi VIII DPR Marwan Dasopang Kecam Kemenhaj Sebagai ‘Tidak Mau Kerja’

Media Pendidikan – 11 April 2026 | JakartaKementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) kembali menjadi sorotan publik setelah mengumumkan rencana perubahan sistem antrean haji yang disebut “war ticket”. Kebijakan baru yang menimbulkan dugaan manipulasi antrian ini memicu kemarahan umat Muslim serta kritik tajam dari sejumlah tokoh politik, termasuk Ketua Komisi VIII DPR, Marwan Dasopang.

Kontroversi war ticket haji

War ticket haji merupakan istilah yang dipakai untuk menyebut praktik penyediaan tiket haji secara tidak transparan, di mana calon jamaah dapat mengakses kuota lebih cepat dengan biaya tambahan atau melalui jaringan politik tertentu. Pada awal April 2026, Kemenhaj mengeluarkan pernyataan bahwa mereka akan mengimplementasikan sistem digital terpusat untuk mempercepat proses pendaftaran dan mengurangi antrian panjang yang selama ini menjadi keluhan utama.

Baca juga:

Namun, sejumlah organisasi masyarakat sipil menilai bahwa rencana tersebut justru membuka celah bagi praktik korupsi baru. Mereka menyoroti bahwa mekanisme yang belum sepenuhnya jelas dapat dimanfaatkan oleh oknum pejabat atau agen travel untuk menyeleksi jamaah yang bersedia membayar lebih, sehingga menimbulkan kesan “war ticket”.

Reaksi Marwan Dasopang

Marwan Dasopang, Ketua Komisi VIII DPR yang membidangi urusan agama, keagamaan, dan kemanusiaan, melontarkan pernyataan keras pada konferensi pers yang diadakan di kantor DPR pada 10 April 2026. Ia menuduh Kemenhaj “tidak mau kerja” dan menilai kebijakan tersebut sebagai upaya mengalihkan perhatian publik dari masalah manajemen antrian yang masih belum terselesaikan.

“Itu namanya tidak mau kerja, mengalihkan masalah dengan jargon digital tanpa menyelesaikan akar permasalahan,” ujar Dasopang. “Kami menuntut Kemenhaj menyajikan data transparan tentang alokasi kuota, prosedur verifikasi, serta mekanisme pengawasan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik,” tambahnya.

Langkah DPR dan Kemenhaj selanjutnya

Menanggapi kritik tersebut, Komisi VIII DPR berencana mengadakan rapat dengar pendapat dengan perwakilan Kemenhaj, Lembaga Pengelola Dana Haji (LPDH), serta organisasi jamaah haji. Tujuan rapat adalah menilai keabsahan kebijakan digital baru dan mengidentifikasi potensi penyalahgunaan.

Baca juga:

Kemenhaj, di sisi lain, menegaskan bahwa sistem digital yang diusulkan akan meningkatkan efisiensi dan mengurangi intervensi manusia dalam proses penetapan kuota. Pejabat Kemenhaj menyatakan bahwa semua data akan dipublikasikan secara real time melalui portal resmi, sehingga dapat diakses oleh masyarakat luas.

Meski demikian, para pengamat politik menilai bahwa tekanan dari DPR dan publik dapat memaksa Kemenhaj untuk meninjau kembali kebijakan tersebut. “Kementerian tidak dapat mengabaikan suara Marwan Dasopang dan ribuan jamaah yang khawatir akan praktik war ticket,” kata salah satu analis kebijakan publik.

Respon masyarakat dan implikasi politik

Keluhan masyarakat muncul di media sosial dengan tagar #WarTicketHaji dan #TidakMauKerjaKemenhaj. Banyak pengguna menuntut transparansi penuh serta menolak setiap bentuk diskriminasi dalam alokasi kuota haji.

Secara politik, isu ini dapat memengaruhi citra pemerintah pada masa menjelang pemilihan umum berikutnya. Kritik dari Marwan Dasopang menambah tekanan pada kementerian untuk memperlihatkan akuntabilitas yang lebih tinggi.

Baca juga:

Dengan sorotan publik yang terus meningkat, langkah konkret yang diambil oleh Kemenhaj dan DPR dalam menanggapi isu war ticket haji akan menjadi tolok ukur komitmen pemerintah dalam memastikan keadilan dan transparansi bagi jutaan calon jamaah haji di Indonesia.

Kesimpulannya, perdebatan seputar war ticket haji mencerminkan kebutuhan mendesak akan reformasi sistem antrean yang benar‑benar mengutamakan kepentingan jamaah, bukan kepentingan politik atau komersial.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *