Media Pendidikan – 11 April 2026 | Mahasiswa Peduli, sebuah gerakan mahasiswa yang dikenal aktif menanggapi isu-isu keadilan sosial, mengumumkan rencananya untuk melanjutkan aksi kemah solidaritas di Markas Pusat Pemeliharaan Operasi Militer (Puspom) TNI. Langkah ini diambil sebagai respons atas kemungkinan pemerintah memaksa proses hukum kasus percobaan pembunuhan berencana terhadap Andrei Yunus, seorang mahasiswa yang menjadi sorotan publik sejak Januari 2024.
Latar Belakang Kasus Andrie Yunus
Andrie Yunus, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia, menjadi korban serangan brutal pada akhir 2023. Kejadian tersebut memicu gelombang kemarahan publik, terutama di kalangan akademisi dan organisasi kemahasiswaan, yang menuntut penegakan hukum yang transparan dan adil. Hingga kini, penyelidikan menunjukkan adanya unsur dugaan keterlibatan aparat keamanan, sehingga menimbulkan dugaan bahwa proses peradilan dapat dipengaruhi.
Mahasiswa Peduli dan Aksi Kemah Sebelumnya
Sejak awal kasus, Mahasiswa Peduli telah menggelar serangkaian aksi damai, termasuk demonstrasi di depan DPR dan kampus-kampus terkemuka. Pada bulan Februari 2024, kelompok tersebut memulai aksi kemah selama tiga hari di depan Polresta Jakarta, sebagai bentuk tekanan bagi aparat penegak hukum untuk menolak segala bentuk intervensi militer dalam proses peradilan. Aksi tersebut mendapat dukungan luas dari kalangan mahasiswa, LSM, serta tokoh masyarakat.
Rencana Kemah di Puspom TNI
Jika pemerintah tetap bersikeras mengalihkan kasus ke peradilan militer, Mahasiswa Peduli berencana menggelar kemah di area Puspom TNI yang terletak di Bogor. Lokasi tersebut dipilih karena merupakan simbol kekuasaan militer dan sekaligus menjadi titik strategis untuk menyoroti potensi penyimpangan prosedur peradilan sipil. Rencana tersebut mencakup penempatan tenda selama minimal lima hari, dengan agenda diskusi panel, penyuluhan hak asasi manusia, serta aksi simbolik memegang poster bertuliskan “Keadilan untuk Andrie Yunus”.
Reaksi Pihak Militer dan Pemerintah
Pihak militer belum memberikan komentar resmi terkait rencana aksi tersebut. Namun, dalam pernyataan singkat, TNI menegaskan bahwa Puspom merupakan fasilitas yang bersifat militer dan tidak terbuka untuk aksi publik tanpa izin resmi. Sementara itu, Kementerian Hukum dan HAM menyatakan kesediaannya untuk meninjau kembali keputusan pengalihan kasus ke peradilan militer, dengan menekankan pentingnya proses yang adil dan tidak memihak.
Harapan dan Tantangan Mahasiswa Peduli
Kelompok Mahasiswa Peduli menegaskan bahwa aksi kemah di Puspom TNI bukan sekadar demonstrasi semata, melainkan upaya edukasi publik mengenai bahaya intervensi militer dalam urusan sipil. Mereka berharap tekanan massa dapat memaksa pemerintah untuk tetap menempuh jalur peradilan sipil, yang dianggap lebih transparan dan dapat diawasi oleh lembaga independen. Di sisi lain, tantangan logistik, izin lokasi, dan potensi tindakan represif menjadi faktor yang harus dihadapi oleh para aktivis.
Dengan latar belakang kasus yang masih menggantung dan tekanan publik yang semakin kuat, aksi kemah di Puspom TNI menjadi simbol perlawanan mahasiswa terhadap upaya mengabaikan proses hukum yang adil. Keberhasilan aksi ini akan sangat dipengaruhi pada respons masyarakat luas serta keputusan akhir pemerintah mengenai jalur peradilan yang akan ditempuh.


Komentar