Media Pendidikan – 10 April 2026 | Kementerian Pertanian (Kementan) secara resmi menuntaskan Gerakan Tanam Serempak (GTS) di program Cetak Sawah Rakyat (CSR) pada Kamis, 9 April 2024, yang dilaksanakan di Desa Panyipatan, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan. Penyelesaian ini menandai langkah penting dalam upaya optimalisasi produksi padi nasional melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan petani lokal.
Latihan Lapangan dan Penataan Sawah
Pada acara tersebut, tim teknis Kementan bersama Dinas Pertanian Kabupaten Tanah Laut memfasilitasi penataan lahan seluas lebih dari 200 hektar. Proses penataan meliputi pembajakan, pemupukan dasar, serta penyediaan bibit unggul varietas padi yang tahan terhadap hama dan perubahan iklim. Semua kegiatan dilaksanakan secara serempak untuk memastikan sinkronisasi penanaman pada fase yang sama, sehingga meminimalisir risiko kegagalan panen yang biasanya timbul akibat perbedaan waktu tanam.
Tujuan Strategis Program CSR
Program Cetak Sawah Rakyat dirancang untuk meningkatkan luas lahan produktif, mengurangi ketergantungan impor beras, dan meningkatkan kesejahteraan petani. Melalui GTS, Kementan berupaya mempercepat pemulihan produksi padi setelah tahun-tahun sebelumnya yang terdampak oleh cuaca ekstrem. Selain itu, program ini menargetkan peningkatan produktivitas hingga 20% per hektar dengan mengintegrasikan praktik pertanian presisi, pemupukan berbasis kebutuhan tanah, dan pelatihan intensif bagi petani.
Keterlibatan Pemerintah Daerah dan Komunitas
Pemerintah Kabupaten Tanah Laut, melalui Bupati dan Sekretaris Daerah, memberikan dukungan logistik berupa traktor, alat pertanian, serta tenaga kerja tambahan. Kepala Dinas Pertanian setempat, Dr. H. M. Sulaiman, menyatakan bahwa sinergi antara aparat pemerintah dan komunitas petani berhasil mempercepat proses penanaman dan meningkatkan partisipasi petani yang mencapai 95% dari total rumah tangga pertanian di wilayah tersebut.
Selain dukungan material, program ini juga melibatkan lembaga penyuluhan pertanian untuk memberikan pelatihan mengenai teknik irigasi tetes, penggunaan pupuk organik, dan pemantauan hama secara digital. Petani yang berpartisipasi melaporkan peningkatan pengetahuan dan kesiapan mengadopsi teknologi baru, yang diharapkan dapat menurunkan biaya produksi dan meningkatkan margin keuntungan.
Harapan dan Langkah Selanjutnya
Kementerian Pertanian, melalui Menteri Pangan dan Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, menekankan bahwa penyelesaian GTS di Tanah Laut merupakan contoh model yang dapat direplikasi di provinsi lain dengan potensi lahan serupa. Menteri mengharapkan bahwa hasil panen pertama dari CSR ini dapat dicapai pada akhir musim hujan, dengan estimasi produksi mencapai 1,2 juta ton beras, cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daerah dan menyumbang cadangan pangan nasional.
Ke depan, Kementan berencana melakukan monitoring intensif selama fase pertumbuhan, termasuk survei tanah, evaluasi penggunaan pupuk, serta penanggulangan hama secara cepat. Data hasil monitoring akan menjadi basis perencanaan kebijakan pertanian selanjutnya, termasuk alokasi anggaran dan penyesuaian program CSR di wilayah lain.
Dengan selesainya Gerakan Tanam Serempak di Tanah Laut, Kementan menegaskan komitmen berkelanjutan untuk meningkatkan ketahanan pangan Indonesia melalui pendekatan terkoordinasi, berbasis teknologi, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan di sektor pertanian.


Komentar