Media Pendidikan – 18 Mei 2026 | Kuba menghadapi krisis energi yang semakin serius setelah negara itu dilaporkan kehabisan pasokan diesel dan bahan bakar untuk menopang operasional pembangkit listrik.
Menteri Energi Kuba, Vicente de la O Levy, mengatakan cadangan energi negara itu saat ini berada pada titik kritis. “Sistem ini, sekali lagi, telah kehabisan cadangan bahan bakar,” kata Vicente de la O Levy dalam konferensi pers.
Kondisi tersebut memicu pemadaman di berbagai wilayah dan mulai memunculkan gelombang protes di tengah tekanan blokade energi de facto dari Amerika Serikat (AS). Warga terlihat memukul panci di jalan-jalan yang gelap akibat pemadaman, bahkan sebagian menyalakan api sebagai bentuk protes.
Presiden Miguel Díaz-Canel menilai situasi yang memburuk itu dipicu tekanan dari Presiden AS Donald Trump. Menurutnya, kebijakan AS telah memperburuk kondisi energi Kuba.
AS dilaporkan telah memangkas hampir seluruh akses impor bahan bakar Kuba sejak Januari. Hanya satu kapal tanker Rusia yang diizinkan masuk dan berlabuh pada akhir Maret.
Pasokan sekitar 730 ribu barel minyak dari kapal tersebut sempat membantu mengurangi frekuensi dan durasi pemadaman listrik. Namun, persediaan itu disebut habis pada awal April.
Di sisi lain, belum terlihat tanda-tanda pasokan baru akan segera masuk. Kapal berbendera Rusia bernama Universal yang membawa diesel untuk Kuba dilaporkan menghentikan pelayarannya lebih dari tiga pekan lalu dan masih berada di sekitar Bermuda.
Tekanan terhadap Kuba juga meningkat setelah Trump mengambil langkah terhadap Venezuela yang selama ini menjadi sekutu utama Havana, sekaligus mengancam negara lain yang memasok minyak ke Kuba dengan tarif tambahan.


Komentar