Media Pendidikan – 09 Mei 2026 | RRI.CO.ID, Jakarta – Direktur Eksekutif Setara Institute Halili Hasan menegaskan bahwa anak dapat mengalami radikalisasi diri hanya dari paparan konten digital media sosial. Fenomena ini menjadi ancaman serius seiring semakin masifnya penggunaan teknologi di kalangan generasi muda.
Halili menjelaskan bahwa proses radikalisasi tersebut dapat terjadi hanya dengan mengakses dan mengonsumsi konten yang beredar di media sosial. Tanpa pengawasan dan kemampuan menyaring informasi, anak-anak berpotensi menyerap narasi yang berkembang di ruang digital tersebut.
Direktur Setara Institute menekankan pentingnya peran lembaga pendidikan dalam membangun kemampuan berpikir kritis anak terhadap informasi digital yang dikonsumsi setiap hari. Kemampuan tersebut menjadi benteng utama agar anak tidak mudah terpengaruh oleh konten radikal yang beredar luas.
Halili menilai sekolah harus menjadi ruang utama dalam penguatan literasi digital sekaligus daya analisis anak terhadap berbagai informasi. Selain itu, ia menekankan pentingnya memperbanyak narasi alternatif yang dapat menandingi konten radikal di media sosial. Narasi tersebut dapat mencakup isu keadilan sosial, lingkungan, serta kemiskinan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.


Komentar