Media Pendidikan – 05 Mei 2026 | Jakarta, 4 Mei 2026 – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi Indonesia pada April 2026 mengalami kenaikan tahunan sebesar 2,42 persen. Kenaikan bulanan tercatat 0,13 persen, didorong terutama oleh kelompok transportasi yang memberikan andil inflasi terbesar pada bulan tersebut.
Data Inflasi Bulanan dan Tahunan
Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 110,95 pada Maret 2026 menjadi 111,09 pada April 2026, menandakan peningkatan 0,13 persen secara bulanan. Secara year‑to‑date, inflasi mencapai 1,06 persen. Angka tahunan 2,42 persen lebih rendah dibandingkan bulan Maret yang tercatat 3,48 persen, menandakan perlambatan inflasi secara menyeluruh.
Kelompok Transportasi Menjadi Penyumbang Utama
Komoditas Lain dan Fenomena Deflasi
Selain transportasi, beberapa komoditas lain memberikan tekanan inflasi, antara lain minyak goreng (0,05 persen), tomat (0,03 persen), serta beras dan nasi dengan lauk masing‑masing (0,02 persen). Di sisi lain, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi sebesar 0,20 persen, dengan kontribusi deflasi 0,06 poin persentase. Barang‑barang yang menurunkan harga meliputi daging ayam, telur ayam ras, emas perhiasan, dan cabai rawit.
Persebaran Inflasi di Seluruh Provinsi
BPS mencatat bahwa pada April 2026, sebanyak 30 provinsi mengalami inflasi, sementara 8 provinsi berada dalam kondisi deflasi. Provinsi dengan inflasi tertinggi adalah Papua Barat dengan 2 persen, sedangkan provinsi dengan deflasi terdalam adalah Maluku dengan -0,17 persen.
Penyebab melambatnya inflasi secara nasional antara lain berakhirnya periode perayaan Hari Besar Keagamaan Ramadan dan Lebaran, serta penurunan harga cabai akibat peningkatan pasokan selama musim panen di daerah‑daerah sentra produksi.
Secara tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tetap menjadi penyumbang utama inflasi dengan kontribusi 0,96 poin persentase. Komoditas utama yang mendorong inflasi tahunan meliputi ikan segar, daging ayam ras, beras, minyak goreng, sigaret kretek mesin, dan telur ayam ras.
Dengan data ini, BPS menegaskan pentingnya pemantauan harga pada sektor transportasi serta komoditas pangan yang sensitif terhadap fluktuasi musiman, sebagai langkah untuk mengendalikan tekanan inflasi ke depan.


Komentar