Media Pendidikan – 15 April 2026 | Harga Bitcoin melonjak hingga sekitar Rp 1,2‑1,27 miliar, menandai level tertinggi dalam empat pekan terakhir. Kenaikan ini terjadi pada Selasa, 14 April 2026, ketika Bitcoin diperdagangkan pada kisaran USD 74.400 (sekitar Rp 1,27 miliar dengan kurs Rp 17.130 per dolar) setelah sempat menyentuh USD 74.901, level tertinggi sejak 17 Maret 2026.
Lonjakan harga Bitcoin dipicu oleh optimisme pasar terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Bloomberg melaporkan bahwa harapan akan penyelesaian konflik di Selat Hormuz meningkatkan sentimen risiko global, yang secara otomatis mengangkat aset‑aset berisiko seperti kripto.
“Kenaikan ini terjadi di tengah reli aset berisiko secara global, dipicu harapan AS bisa mencapai kesepakatan dengan Iran untuk meredakan konflik yang sedang berlangsung,” tulis Bloomberg. Pernyataan tersebut menggarisbawahi pengaruh geopolitik terhadap pergerakan pasar kripto.
Selain Bitcoin, beberapa koin utama juga menguat. Ethereum naik sekitar 5 persen ke level USD 2.370, sementara Dogecoin, Ripple, dan Litecoin menunjukkan tren positif. Data CoinMarketCap mencatat bahwa dalam 24 jam terakhir, Bitcoin naik 5,48 persen, mengukuhkan posisinya sebagai aset digital dengan performa terbaik di antara aset berisiko lain.
Para analis menilai bahwa meskipun blokade laut di Selat Hormuz masih berlangsung, pasar melihatnya sebagai sinyal bahwa Amerika Serikat memperpanjang jendela waktu untuk mencapai kesepakatan damai. Damien Loh, Chief Investment Officer Ericsenz Capital, mengatakan, “Pasar menganggapnya sebagai hal positif bahwa Trump secara efektif memperpanjang jangka waktu untuk mencapai kesepakatan dan bahwa ia dilaporkan sedang mencari putaran pembicaraan berikutnya.”
Namun, Loh menambahkan, kenaikan signifikan berikutnya masih bergantung pada kebijakan regulasi. Ia menyoroti pentingnya “Clarity Act”, sebuah kerangka regulasi untuk aset digital yang diusulkan di AS, sebagai faktor penentu apakah Bitcoin dapat melanjutkan rallynya.
Sejak akhir Februari 2026, ketika ketegangan AS‑Iran memuncak, Bitcoin telah mencatat kenaikan lebih dari 10 persen, sementara emas justru turun hampir 10 persen dan indeks S&P 500 bergerak datar. Pola historis menunjukkan Bitcoin cenderung bergerak sejalan dengan aset berisiko, dan tren ini kembali terlihat pada bulan ini.
Secara keseluruhan, lonjakan harga Bitcoin ke level Rp 1,2‑1,27 miliar mencerminkan interaksi kompleks antara dinamika geopolitik, kebijakan moneter, dan sentimen risiko investor. Jika kesepakatan damai antara AS dan Iran tercapai dan regulasi digital di AS menjadi lebih jelas, Bitcoin berpotensi melanjutkan rallynya dan menembus level resistance yang lebih tinggi.


Komentar